Friday, March 21, 2014

Buka Bisnis = Cari Masalah

Beberapa bulan yang lalu saya baru mengganti ban motor saya dengan ban tubeless. Setelah sekian lama menggunakan ban lama yang memiliki ban dalam, akhirnya saya menyerah dan memutuskan menggunakan tubeless. Alasannya? Saya sudah mulai lelah mendorong motor saya dan mencari tambal ban terdekat untuk sekedar menambal atau mengganti ban dalam yang secara harga tidak berbanding lurus dengan kualitasnya.
Saya terlampau lelah terlambat pada janji-janji penting dan beralasan bahwa ban motor saya kempes karena paku-paku yang tersebar di jalanan.

Ya saya menyerah dan memutuskan merogoh kocek lebih dalam untuk mengganti keseluruhan ban motor saya. Sekarang saya jauh lebih menikmati jalanan karena tak lagi khawatir akan paku-paku yang berserakan dan memungkinkan ban untuk kempes tertusuk karenanya.

Ban tubeless

Beberapa hari kemudian, saya bertanya-tanya: 'kapan ya ban tubeless pertama kali ada?'

Singkat cerita, dari internet saya menemukan bahwa penemuan ban sudah ada sejak lama, dan terus berkembang hingga saat ini. Dan ban tubeless atau ban tanpa ban dalam pertama kali dikenalkan pada tahun 1903. Di Indonesia sendiri? Kurang lebih ban tubeless menjadi booming dan laku di Indonesia semenjak tahun 1990-an.

Kenapa? Simpel karena banyak paku bertebaran dimana-mana.

Oke sebelum saya membicarakan hal ini, pernahkah berpikir bahwa ban tubeless tidak begitu populer di Indonesia dulunya? Tidak heran berbagai merk motor dan mobil lebih banyak menggunakan ban motor biasa saat meluncurkan produknya. Selain lebih murah secara harga, kualitasnyapun masih dianggap mampu menerjang jalan raya pada masanya.

Semakin tahun berjalan, semakin banyak oknum yang nekat menyebar paku di jalan guna untuk mendapat pelanggan atas tambal ban yang dimilikinya. Sehingga banyak motor yang menggerutu dan mencari alternatif lain.

Mulailah ban tubeless ramai dicari para pengguna kendaraan bermotor. Bukan karena performanya yang lebih baik yang dilihat, tetapi karena pengunaannya dapat lebih menguntungkan karena mampu bertahan lebih lama walaupun terkena paku di jalan raya. Sehingga tidak heran hampir semua kendaraan bermotor beralih menggunakan ban tubeless dibanding ban dalam biasa.

Apa poin yang ingin saya sampaikan? Masalah itu selalu ada.

Bisnis tambal ban ada karena banyaknya kebutuhan para pengendara menambal atau mengganti ban dalamnya karena terkena paku di jalan. Bisnis ban tubeless merajalela karena kebutuhan para pengendara yang ingin menikmati perjalanannya dengan lebih baik.

Masalah menciptakan kebutuhan. Dan kebutuhan menuntut adanya jawaban.

Disini bisnis berperan penting. Seringkali kita menawarkan produk sebagai jawaban dari kebutuhan segmentasi pasar kita. Tapi apakah selamanya masalahnya tetap sama? Apakah selamanya kebutuhannya tak berbeda?

Inovasi jawabannya!

Sama seperti masalah yang terus berkembang, kemampuan kita memberi jawaban juga harus meningkat. Sebagai seorang pebisnis yang sedang belajar, saya melihat bahwa bisnis ada karena adanya masalah.
Artinya, masalah seharusnya tidak membuat bisnis kita mati. Justru jika tidak ada masalah, bisnis kita yang mati.

Solusi ada karena masalah

Solusi diciptakan karena ada masalah. Ada ketidakpuasan yang terjadi. Ada pergeseran yang membutuhkan hal yang lebih baik. Itulah mengapa sebuah solusi kemudian ditemukan. Dan kembali, dalam bisnis - solusi dari permasalahan baru tidak bisa dijawab selain dari inovasi yang harus dilakukan.

Mengutip sebuah judul buku dari seorang Gede Prama: Inovasi atau Mati!

Saturday, March 15, 2014

Jangan Buka Usaha!

Beberapa kali saya terlibat diskusi dengan teman-teman yang punya keinginan untuk membuka usahanya sendiri. Mulai dari melanjutkan sistem franchise yang ada, memulai online shop, hingga ide membuat toko atau restaurant sendiri dengan menjual produk yang dibuatnya sendiri.

Namun, hampir semua teman tersebut berakhir kembali di belakang meja kerja dan mengatakan, "belum terkumpul modalnya". Sebuah alasan yang klasik yang membuat begitu banyak orang pada akhirnya tidak memulai.

Tidak ada modal

Baiklah saya mengaku. Salah satu orang yang pernah mengungkapkan itu adalah saya. Saya menunda untuk membuka usaha karena modal yang terlihat belum mencukupi ekspektasi saya. Saya memilih untuk mengurunkan angan saya untuk membuka cepat sebuah usaha.

Namun memang benar kata pepatah bahwa orang bebal tak akan pernah jalan kemana-mana. Dan saya memilih untuk tidak menjadi orang bebal. Saya memilih untuk menambah wawasan saya untuk belajar dari para pakar. Program T100 dari UCEO (Universitas Ciputra Entrepreneur Online) membawa saya belajar dari pakar tersebut, dan saya belajar bahwa modal materi adalah prioritas ke-sekian dalam sebuah pembangunan usaha.

Kalau yang dipikirkan hanyalah tidak ada modal uang, jangan buka usaha!

Kata-kata itu menjadi kesimpulan saya setelah mendengar para orang sukses yang telah berhasil di dunia usaha. Bahkan orang sukses yang telah berhasil bertahun-tahun di dunia usahapun menilai bahwa uang bukanlah modal utama. Betul kita memerlukan uang sebagai modal kita untuk menjalankan sebuah usaha, namun jika itu dianggap menjadi satu-satunya hal utama dan terpenting, kita telah meleset menilai mengenai sebuah pembangunan usaha.

Mana yang kita pilih:
1. Membuat sebuah konsep bisnis yang bagus dan besar kemudian baru mencari hal-hal yang dapat mewujudkan hal itu,

atau

2. Kita lihat apa yang kita punya dan kemudian berpikir bisnis apa yang bisa kita ciptakan dan kembangankan dengan apa yang telah kita punya?


2 pilihan

Orang yang kebanyakan berakhir di belakang meja kerja dan mengatakan bahwa 'belum ada modalnya' pasti karena memilih pilihan pertama. Mereka (termasuk saya dulunya) masih menganggap bahwa modal harus mengikuti ide yang saya buat. Padahal menurut para pakar, tidak seperti itu.

Ada 3 pertanyaan yang perlu kita refleksikan sebagai 'modal' yang sudah pasti kita semua punya:
1. Siapa saya?
Pertanyaan ini akan membuka banyak sekali hal terhadap bisnis yang akan kita mulai. Pertanyaan 'siapa kita' termasuk di dalamnya bidang apa yang saya suka, saya lulusan mana, apa hobi dan passion saya, peran apa yang sedang saya jalankan sekarang. Pertanyaan ini merupakan pertanyaan mendasar yang perlu kita tahu jelas sebelum menjalankan sebuah usaha yang kita jalankan sendiri.

2. Apa yang bisa saya lakukan?
Pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang paling menuntut banyak waktu menurut saya, karena membutuhkan penggalian kedalam diri sendiri yang terkadang menjadi tempat yang paling jarang kita tanyai sepanjang hidup kita. Namun pertanyaan ini akan menuntun kita pada jenis usaha yang memang akan menjadi trademark kita, karena hal itu sangat merepresentasikan siapa diri kita.
'Apa yang bisa saya lakukan' mencakup hal apa yang paling mampu kita lakukan, aktifitas yang paling saya suka, hal yang bisa saya tawarkan pada orang lain, ketrampilan yang dapat mendukung usaha saya kedepannya.

3. Siapa yang saya kenal?
Ini merupakan pertanyaan yang penting untuk kita pikirkan secara mendalam, karena semua orang sukses pasti berjalan bersama-sama dengan relasinya. Tidak pernah ada orang dalam sejarah yang sukses karena kemampuannya sendiri.
'Siapa yang saya kenal' mencakup siapa saja yang memungkinkan membantu saya untuk mewujudkan usaha saya. Siapa yang mampu melengkapi kekurangan saya di satu aspek sehingga usaha yang dibangun dapat berjalan dengan lebih mulus.

Ketiga hal inilah yang saya pelajari dari para pakar usaha mengenai modal. Dan seluruh orang sukses di bidang bisnis apapun mengerti mengenai 3 hal ini.

Sebagai seorang pemula, saya belajar untuk mengatur hal-hal atau sumber-sumber yang ada di dalam diri saya terlebih dahulu sebelum saya mengatur sumber-sumber yang ada di luar. Dan saya belajar untuk memulai menggali modal yang seyogyanya ada di dalam saya.

We don't need to be great to start. But we need to start to be great.

Tuesday, March 4, 2014

Strategi: Sebuah Nafas Dalam Usaha

Saya yakin setiap dari kita tahu mengenai Kodak. Sebuah perusahaan yang menjadi pionir sebuah produk fotografi dan telah berjaya melahirkan produk-produk inovatif yang kemudian bisa kita rasakan dampaknya sekarang ini. Bahkan Kodak adalah pionir dari negatif film yang membuat dunia gempar karena dapat membawa hasil foto mereka kemana-mana.


Namun sayang, setelah berjuang mati-matian untuk tetap bertahan hidup, perusahaan Kodak telah dinyatakan berakhir semenjak tahun 2012. Era digital semakin merajalela dan sedikit demi sedikit orang meninggalkan negatif film yang mereka rasa tidak mereka butuhkan lagi.

Kodak bukannya tidak melihat perubahan tersebut, tapi ditengarai Kodak amat ragu-ragu dan tidak total untuk mengubah bisnis mereka secara signifikan. Akhirnya, orang muali beralih dari produk Kodak ke produk-produk lain yang dirasa lebih canggih dan mengikuti tren masa kini.

Kodak bukanlah satu-satunya. Lihatlah IBM sekarang ini, handphone Nokia yang dulu pernah berjaya, social media Facebook, kini telah diambang "kematian"nya. Begitu banyak produk yang dulu pernah berjaya kita telah tergantikan oleh produk-produk baru yang semakin canggih dan berkelas.

Saya belajar bahwa inovasi akan terus ada, dan jika kita tidak berusaha mengikuti kemampuan kita dengan inovasi yang beredar di dunia, bersiaplah tertinggal.

Dalam program T100 yang diadakan UCEO (Universitas Ciputra Entrepreneur Online), sebuah kuliah online yang saya ikuti, saya diajarkan mengenai strategi dalam berwirausaha. Begitu pentingnya sebuah strategi dalam usaha agar kita lnatas tidak mengalami "kematian" dalam berbisnis.


Setiap bisnis pasti akan mengalami masa penurunan. Masa dimana produknya tidak lagi menjadi unggulan dan era yang berlangsung sedikit demi sedikit menenggelamkan produk yang kita jual. Oleh sebab itu dibutuhkan strategi.

Banyak perusahaan yang menjadikan strategi sebagai "jurus pamungkas" dimana saat pelanggan mulai menurun minatnya atas produk yang dijual, barulah memutar otak untuk memunculkan strategi untuk berubah. Padahal, strategi seharusnya menjadi nafas sebuah usaha.

Bukan hanya saat penjualan menurun, namun di setiap saat pebisnis harus memutar otak untuk melancarkan strategi agar tidak berakhir dengan "kematian". Sebagai seorang entrepreneur, sudah seharusnya strategi menjadi teman baik kita sepanjang perjalanan menuju puncak kesuksesan. Tidak hanya menjadi jurus yang keluar saat keadaan menjadi tidak stabil, tapi justru strategi menjadi nafas bagi kita untuk terus maju dan bertumbuh.

Pak Sudhamek, seorang CEO Garudafood dengan lantang mengingatkan saya bahwa bisnis jangan hanya mencari profit. Betul bahwa kita butuh profit dalam usaha yang kita bangun, namun jika kita menjadikan profit sebagai satu-satunya tujuan kita menjalankan bisnis, itu sudah salah besar. Di industri apapun kita berada, sebenarnya yang kita jual bukanlah barang atau jasa, melainkan sebuah nilai tambah.

Setiap orang mencari nilai tambah atas suatu produk atau jasa yang kita sediakan. Artinya, poin pentingnya bukan pada jasa atau barangnya, tapi lebih kepada nilai yang diberikan atas barang atau jasa tersebut. Kualitas yang kita bangun seharusnya adalah kualitas yang tidak bisa tidak dilirik oleh konsumen. Oleh sebab itu, sebuah nilai tambahlah yang menjadikan sebuah bisnis terus bertumbuh.

Namun, saya belajar bahwa nilai tambah tidak dihasilkan begitu saja. Perlu daya pikir luar biasa untuk menentukan strategi bagaimana sebuah nilai tambah itu dihasilkan. Dan seorang pebisnis harus mampu mengubah kendala menjadi sebuah peluang strategi untuk berusaha agar bisnis yang dikelolanya menjadi lebih baik lagi dan tetap dilirik oleh konsumen yang ada.

Belajar dari Kodak, janganlah lalai untuk mengatur strategi. Layaknya tim sepak bola, strategi menjadi langkah awal sebuah tim bisa memenangkan pertandingan.

Success always start from execution, and a great execution always start with great strategy.
So, let's strategize!


Wednesday, February 26, 2014

Sebuah Langkah Awal Berbisnis



Wise man said that the best inspiration is the inspiration that been shared.

Kita semua kenal Pak Ciputra. Seorang pebisnis besar yang telah mengembangkan begitu banyak perumahan yang luar biasa sukses dan menjadi pengusaha properti yang cukup disegani di dunia. Selain itu, pengusaha yang biasa dipanggil Pak Ci ini mulai berkiprah di bidang pendidikan dan mengembangkan sebuah sekolah bisnis yaitu Universitas Ciputra.
Karena perkembangan teknologi dan modernisasi, Universitas Ciputra mulai melebarkan sayapnya dengan mengadakan sekolah online, yang dikenal dengan Universitas Ciputra Entrepreneur Online (UCEO). Beberapa minggu yang lalu, dimulai sebuah program baru bernama T100 atau Tumbuh 100x dimana Pak Ciputra ingin membagikan inspirasi bagi para pengusaha untuk memiliki mindset yang bertumbuh (growth mindset) agar bisa mengembangkan bisnis yang dijalankan.

Menurut survey, sebuah negara menjadi negara maju saat negaranya memiliki setidaknya 4% wirausaha dari total jumlah penduduknya. Sebagai gambaran, Singapura memiliki 7,2% wirausaha, Malaysia memiliki 4% wirausaha, sedangkan Indonesia hanya 1,56% wirausaha dari total jumlah penduduknya.

Oleh sebab itu, keberadaan Pak Ciputra dan para pengusaha lainnya yang tergabung dalam program T100 menjadi penting agar para pengusaha mulai untuk serius mengembangkan bisnisnya, sekaligus membuat para pemula bisnis untuk berani mengambil langkah dengan memiliki pola pikir yang benar terhadap bisnis.

Saya pribadi merupakan pebisnis pemula. Saya memiliki brand printing saya sendiri. Namun masih belum memiliki tempat sendiri untuk akhirnya bisa menyatakan kepemilikan saya atasnya. Selama ini, saya tidak pernah mendalami ilmu wirausaha, saya hanya banyak mendengar cerita dari teman-teman para wirausaha dan meihat bagaimana mereka berjuang. Kali ini saya mencoba belajar mengenai ilmu wirausaha dari program T100 ini. Pembelajaran mengenai pengembangan usaha yang saya dapat beragam. Dimulai dari pola pikir untuk bertumbuh, berani bermimpi, dan yang paling penting berani untuk memulai.

Sedikit bercerita mengenai bisnis yang saya bangun, saya memulai bisnis percetakan tersebut sedari saya kuliah. Dimulai dari peluang mengenal industri percetakan termurah di Jakarta, hingga saya memilih membuat brand saya sendiri sebagai pemberi jasa percetakan yang memberi nilai tambah kepada orang lain. Namun sayangnya, saya hanya menjadikan bisnis saya ini sebagai sambilan dan bukan sebagai bisnis inti.
Dari pembelajaran di T100 ini membuat saya semakin yakin bahwa wirausaha besar selalu dimulai dari mindset yang besar dan tidak takut untuk mengambil langkah maju. 

Saya? Ya saya sadar belum memiliki pola pikir itu sepenuhnya. Saya masih takut untuk mengambil langkah pasti untuk mengembangkan bisnis saya. Oleh sebab itu saya ingin belajar. Oleh sebab itu saya mencari tahu. Saya beruntung dikelilingi orang-orang yang tidak ragu memberikan pengetahuannya agar orang lain juga bisa sukses seperti mereka. Dari mereka saya belajar memiliki pola pikir untuk berkembang. Dari mereka saya belajar untuk memulai. Dan dari mereka saya belajar untuk memberi nilai berbeda.

Berbisnis menjadi mimpi saya semenjak kuliah. Dunia saya bukan di kantor milik orang lain. Saya harus punya bisnis saya sendiri. Saya harus punya kantor saya sendiri. Dan untuk mencapai kesana, saya harus berani untuk memulai. Dan sebelum memulai, saya perlu punya pola pikir yang benar mengenai bisnis yang berkembang.

Maybe this is only a little step, but for me, I'm really sure that this small step will take me to the summit of success mountain. Just wait me there. 

Sunday, February 17, 2013

Rectoverso

"Dunia tidak lagi sama.
Hidup ini menjadi asing.
Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutahu.
Aku galau untuk sesuatu yang tak ada.
Dan jari ini ingin menunjuk sesuatu
yang bisa menjadi sebab, tapi tak kutemukan apa-apa.
Pada saat yang sama, seluruh sel tubuhku berkata lain.
Mereka tahu sesuatu yang tak dapat digapai pikiran.
Apa rasanya, jika tubuhmu sendiri menyimpan rahasia darimu?"

-Dee, Rectoverso.

Tuesday, February 5, 2013

Provident Future: Sebuah Langkah Untuk Hidup Lebih Bermakna


Sekitar tahun 2009 kata "passion" mulai booming di Indonesia. Buku-buku yang menjelaskan tentang apa itu passion mulai diterbitkan. Pembicara-pembicara lokal mulai melafalkan mengenai bekerja dengan karya.

4 tahun perkenalan cukup menjadi patokan bagi banyak orang memikirkan kembali pekerjaannya. Kembali memikirkan apa yang membuatnya bergairah. Kembali memikirkan makna hidup mereka.

Saya sendiri memikirkan kembali hidup saya setelah mengulik sedikit mengenai passion.

Untungnya, saya masih duduk di bangku kuliah ketika belajar tentang passion. Jadinya nggak perlu ngabisin waktu lebih banyak untuk keluar masuk kerjaan untuk nemuin pekerjaan yang saya bener-bener suka.

Intinya, saya beruntung menjadi salah satu dari sekian banyak yang menemukan kecintaannya (baca: passion) saat usia yang masih muda.

Sekarang saya gregetan. Greget karena liat begitu banyak anak muda yang sebenernya punya potensi yang begitu luar biasa tapi mereka sendiri gak tau kalo mereka nyimpen kekuatan yang bisa ubah banyak hal. Bahkan dunia.

Saya belajar bahwa cuma ada 2 jenis pemuda: pemuda yang menuntut perubahan dan pemuda yang menciptakan perubahan. Saya ingin menjadi keduanya.

Nah, gregetan saya terhadap anak-anak muda dan passion-nya menemukan jalan terang. Bulan Oktober 2012 lalu secara tidak sengaja saya bertemu dengan @stevewirawan di sebuah kelas Public Speaking. Dari sana saya dibawa mengenal sebuah kegerakan yang menurut saya luar biasa: Provident Future.




@stevewirawan dan @rickabaroza merupakan inisiator dari kegerakan ini. Saya bersama dengan @kireinayodhia bergabung setelahnya. Berempat memiliki gregetan yang sama. Greget sama anak muda yang belum sadar tentang tujuan, passion, dan nilai dalam diri mereka. Bukannya kesel, tapi gak betah liat potensi yang terkubur begitu aja di begitu banyak anak muda.

Provident Future passionate untuk bangun passion orang lain.

Karena apa? Karena cuma passion yang buat hidup kita berasa hidup. Coba deh kita jalanain aktivitas tanpa rasa suka sama apa yang kita kerjain? Are you really feel happy with all your activities? Apa jadinya kalo setiap hari kita kerjaannya ngedumel karena kita gak suka sama yang kita lakuin?

You're only a dead person inside living body, I think.

Buat saya, menemukan passion adalah langkah awal menemukan makna hidup. Gak ada orang besar yang hidup diluar passion-nya.

Gak ada.

Lalu, apa yang membuat saya excited sama Provident Future? Karena kegerakan ini visinya buat bantuin anak muda. Kalo anak muda udah nemuin passion-nya dan berkarya dari sana, maka bangsa ini akan penuh sama perubahan. Jika perubahan banyak terjadi, maka Indonesia akan jauh lebih baik dari sekarang.

Long vision, I know. Tapi kalo gak ada yang mulai, gak akan ada perubahan. Itu prinsip saya. Oleh sebabnya amat beruntung menemukan teman-teman yang satu visi dan mau bergerak demi masa depan anak-anak bangsa yang lebih baik.

Bagi saya, Provident Future bukan hanya sekedar kegerakan, tapi sebuah langkah awal untuk hidup lebih bermakna.

Start to value yourself. Find your own purpose. Brave enough to see your passion.

And let's change the world.


Wednesday, January 30, 2013

Tuhan, Kau dimana?

"Tuhan, benarkah Kau ada? Jika iya, Kau dimana?"

Tuhan ada dimana-mana, katanya.
Benarkah?

Jika begitu kenapa begitu banyak orang mencari dan menemukan hampa?
Di lorong gang tempat pelacuran, Kau disana?
Di diskotik para penikmat sesama, Kau disana?
Di sudut rumah pelintingan ganja, Kau disana?

Atau Kau hanya nyaman di gedung-gedung besar bertuliskan "GEREJA"?
Duduk diam di tengah MESJID sejuta umat?
Menikmati bau hio di VIHARA tempat banyak orang menyembah?
Berkeliling di PURA dan sambil berbicang dengan Dewa-Dewi disana?

Sebenarnya Kau dimana Tuhan?

Apakah Bumi ini terlalu luas untuk Kau singgahi?
Atau pikiranku terlalu sempit untuk dapat mengerti?

Ah Tuhan...
Sungguhkah entitasMu ada?
Atau aku hanya sibuk mencari Engkau diluar yang senyatanya ada di dalam?

Entah.
Aku hanya bertanya.

Wednesday, December 26, 2012

[Bukan] Selesai...

Blog ini beneran mati suri...

Liat last post, dan ternyata tulisan terakhir gw tentang puasa...
5 bulan belakangan, gw pake buat puasa nulis juga ternyata.

Menumpuknya hal yang harus dikerjakan dan menumpuknya rasa malas pada akhirnya berhasil buat gw vakum menulis. Sungguh membuat gw menarik napas panjang.

Anyway, ini sudah akhir tahun.
Resolusi?
Tampaknya masih jauh dari kata "tercapai".

Tapi melihat kebelakang, banyak banget yang seharusnya patut disyukuri.
Banyak. Banyak banget.
Dan gw gak menyesal.

2013 cuma sebuah tahun yang baru. Kalender lama kita tutup, dan biarlah kita tutup dengan perasaan bangga.
Bangga bahwa kita cukup kuat untuk lewati semua.
Dan resolusi baru dimulai. Sebuah langkah yang menatap kedepan.

Dan lembaran baru kembali kita buka.
Ini bukan akhir, tapi awal,
Ini belum selesai, tapi baru dimulai.

Dan tahun-tahun terbaik sudah menunggu di depan.
Ya, gw siap...


Tuesday, July 31, 2012

Iman Mereka Kayaknya Gak Tipis Deh!

Ah lama gak nulis di blog...
Berbulan-bulan tampaknya blog ini sepi gak ada penunggunya.
Banyak alasan memang, tapi biarlah itu jadi alasan. Karena gue sadar betul bahwa alasan gak akan membawa kita kemana-mana. Alasan cuma jadi tameng atas kesalahan yang mungkin memang kita lakukan dengan sengaja. Jadi, biarlah alasan menjadi alasan. Maaf ya blog ini jadi seperti mati suri.

Tapi gue akan usahakan untuk rajin nulis lagi kok. Hehe.

Mengakhiri bulan ini banyak hal yang gue pikirin sih. Sudah lebih dari setengah tahun lewat. Terus apa yang udah gue lakukan? Berapa banyak resolusi yang udah tercapai? Sudahkah gue bertambah dewasa semenjak awal tahun kemarin?

Ah, rasanya waktu cepet banget berlalu ya. Kayaknya baru kemarin deh gue mikirin mau ngapain aja di tahun 2012 nanti. Kayaknya baru kemarin membuat list panjang refleksi akan tahun 2011 yang akan berakhir. Sekarang, udah lewat tengah tahun 2012 aja. Bener-bener gak terasa sama sekali.

Apapun itu, bulan-bulan ini adalah bulan yang cukup menyenangkan bagi gue. Kenapa? Karena sebentar lagi lebaran!! Yeay!!

Bukan, gue memang gak merayakan lebaran. I'm not a moslem. Tapi gue suka banget sama lebaran. Selain karena Jakarta akan lenggang karena banyaknya orang Jakarta yang kemudian mudik ke kotanya masing-masing, lebaran itu identik sama ketupat dan rendang. I love those foods SO MUCH! Gue bisa makan makanan itu berhari-hari tanpa bosen. Salah satu makanan favorit yang gak akan gue tinggalkan.


Bicara tentang lebaran, selalu kita gak bisa lepaskan sama ibadah yang biasa dilakukan umat muslim, yaitu ibadah puasa. Setiap kali bulan puasa, gue selalu geregetan. Bukan geregetan sama yang puasa, justru gue geregetan banget sama orang-orang yang gak puasa.

Gak dimana juga, orang-orang yang gak puasa sebisa mungkin menghindari makan dan minum di depan orang yang puasa. Ya, gak salah sih memang. Tapi kalo alesannya buat menghargai orang muslim, buat gue kok agak bodoh ya?

Gini, puasa itu dijalanin setiap tahunnya. Selain mereka diajarin tahan lapar dan haus, mereka juga diajarin untuk menahan hawa nafsu mereka. Secara gak langsung, mereka diajar untuk gak cepet celamitan pas liat orang lain makan dan minum di depan mereka.

Paling risih sebenernya liat ormas-ormas yang mengaku sebagai pembela, tapi secara paksa menutup rumah-rumah makan karena dianggap menggoda iman umat muslim yang berpuasa.

Ayolah, iman mereka gak setipis itu kali!

Gak perlulah kita menahan makan dan minum kita di depan orang yang puasa. Justru dengan tetap menjadi apa adanya kita, yang bisa makan dan minum dengan leluasa, kita menghargai mereka yang puasa. Betul gak?

Dengan tetap melakukan aktivitas seperti biasa, termasuk makan dan minum, di depan orang yang berpuasa artinya kita sadar bahwa ia tidak mudah tergoda dan bisa melanjutkan puasanya dengan baik. Dengan cara seperti itu, menurut gue, kita menghargai mereka. Kita tidak menganggap iman mereka lemah, tapi sebaliknya dapat mampu menghadapi kondisi-kondisi seperti biasanya.


So, hargailah mereka yang berpuasa. Bukan dengan tidak makan dan minum di depan mereka, tapi dengan cara melakukan aktivitas seperti biasa di depan mereka. Kalau masih ketemu orang-orang yang sebegitu menutup makanan dan minumannya karena ada yang puasa, bilang aja gini: "iman mereka kayaknya gak tipis deh!"

Selamat berpuasa bagi teman-teman yang menjalankan.. Proud of you all guys.

Gambar diunduh dari sini

Tuesday, June 26, 2012

#SepenggalSelasa - Kita Bicara Tentang Takdir #2


Berbicara mengenai takdir, saya selalu teringat akan satu tokoh yang amat menginspirasi saya semenjak beberapa tahun belakangan ini. Saya memang tak pernah bertemu muka dengan muka , namun saya sangat berharap dapat belajar secara langsung dari sosok yang menjadi tokoh inspirasional dunia tersebut.

Ia memang berbeda. Bukan karena telah menciptakan hal-hal yang spektakuler ataupun bergaya mewah dan glamor, ia berbeda secara harafiah. Setiap orang yang melihatnya pasti akan menyadari kekurangan yang ada pada fisiknya. Ia dilahirkan tanpa anggota tubuh yang lengkap. Ia adalah Nick Vujicic yang kini menjadi pembicara dan motivator terkenal di dunia karena cerita mengenai hidupnya.


Gambar diunduh dari sini


Darinya saya belajar, "actually we had our own fate from the past, but we can decide our fate in the future by decide how you accept yourself and act differently to change it."

Seorang yang lahir tidak sempurna. Takdir masa lalunya yang menjadikan dirinya seperti itu. Tak ada yang bisa dilakukan. Tak ada yang bisa diubah. Beberapa kali Nick masih menyatakan bahwa ia masih ingin merasakan hidup dengan anggota tubuh normal selayaknya orang lain di luar sana. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya berjalan dengan kaki dan menulis dan melakukan aktivitas lainnya dengan menggunakan tangan.

Bukankah kita mempunyai cerita yang mirip dengan Nick? Mungkin kita dilahirkan dengan anggota tubuh yang lengkap. Kita masih dapat berjalan dan beraktivitas layaknya orang normal lainnya. Namun, bukankah kita sama bahwa ada bagian dalam masa lalu kita yang tidak bisa kita ubah? Ada takdir yang memang direncanakan Tuhan untuk kita menjalaninya? Bagi Nick, takdir yang tidak bisa ia ubah adalah kenyataan bahwa ia lahir tidak sempurna. Kita? Anda dan saya masing-masing punya takdir seperti itu, bukan? Takdir yang memang direncanakan untuk kita terima dan jalani tanpa dapat dikompromikan sebelumnya.

There are some things in life that are out of our control that we can't change and we have got to live with. The choice that we have, though, is either to give up or keep on going.

Gambar diunduh dari sini


Banyak hal dalam hidup kita yang tidak bisa kita pilih sebelumnya. Semua masa lalu kita yang menjadikan kita menjadi seperti sekarang ini. Namun masa depan kita adalah hasil dari apa yang kita putuskan hari ini. Apa yang ingin kita putuskan? Menyerah karena takdir yang membawa kita seperti sekarang ini dan terlalu sulit untuk bisa kita ubah? Atau memilih untuk terus berjuang menciptakan takdir yang indah bagi masa depan kita?

Saya menulis ini bukan untuk mengatakan bahwa saya mengerti apa yang Anda rasakan. Saya mungkin tidak mengerti bagaimana rasanya berada dalam sebuah takdir yang tak dapat Anda hindari sekarang ini. Saya menulis ini hanya untuk mengatakan bahwa ini bukanlah sebuah akhir. Hidup yang kita jalani sekarang bukanlah akhir.

It's just only the beginning.

Kita semua hidup dengan sebuah takdir di tangan kita. Takdir yang tak bisa kita ubah. Namun, tetap membiarkan hidup dalam takdir yang sama dan tidak mencoba untuk membuat hidup kita lebih baik adalah sebuah kebodohan dan kesia-siaan dalam hidup. Build your own future fate. Find your destiny in your life.

Mengutip kata-kata dalam film animasi Brave garapan Pixar dan Disney, bahwa fate actually already within us. The question next is, are we brave enough to see it and believe?

Percayakah kita bahwa kita bisa merubah takdir kita di masa depan? Beranikah kita untuk percaya bahwa masih banyak hal-hal besar yang dapat kita lakukan? Dan pertanyaan terakhir, maukah kita melakukan hal-hal yang tidak biasa untuk mengubah takdir kita di masa depan?

Nick Vujicic adalah bukti nyata dunia bahwa takdir masa lalu tidak menjadi alasan untuk kita dapat merubah takdir masa depan kita. Keterbatasannya tidak menjadikan Nick sebagai orang yang menutup diri dan menyalahkan keadaan. Sebaliknya, ia dapat mengatasi semuanya itu dan menjadi sosok diri yang lebih baik.

Tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah. Dan pilihan masih terpampang jelas di hadapan kita.

...because you can have a better fate than that you have right now.


Tuesday, June 19, 2012

#SepenggalSelasa - Kita Bicara Tentang Takdir #1


"If you have a chance to change your fate, would you?"

Gambar diunduh dari sini

Kata-kata tersebut saya dapatkan dalam trailer sebuah film animasi yang tampaknya akan meraih sukses di masa perputarannya. Saya merasa bahwa kata-kata tersebut begitu bermaknanya untuk saya telaah dan renungkan sepanjang beberapa hari ini. Beberapa pemaknaan baru akan hidup hadir ketika saya meluangkan waktu untuk merenungkan hal-hal tersebut. Mengenai takdir, dan mengenai hidup.

Banyak orang merespon pertanyaan tersebut kepada saya dengan jawaban-jawaban "I wouldn't", "It's a privilege born with this fate", "I'm satisfied enough".  Saya tidak mengerti mengapa mereka menjawab hal-hal demikian. Apakah mereka cukup puas dengan keadaan hidupnya dan merasa bahwa hidupnya telah memberikan arti yang signifikan? Apakah mereka begitu saja menerima takdir yang ada di depan mereka?

Tampaknya banyak orang masih salah kaprah dengan pertanyaan tersebut. Mereka menganggap bahwa takdir adalah masa lalu yang menjadikan setiap mereka seperti sekarang ini. Bagi saya, jika takdir didefinisikan sebagai hal tersebut, saya juga merasa puas dengan kondisi saya. Tak sedikitpun bagian dari diri saya yang ingin saya rubah dalam masa lalu saya.

But life is supposed to live forward, right?

Kita memang tidak bisa mengubah masa lalu, namun jelas kita bisa memilih masa depan kita. Our future is not a fate, it's in our decision. Jika kita tahu bahwa masa depan kita tidak akan berjalan dengan baik jika kita terus menerus menjadi diri kita seperti yang sekarang, akankah kita merubahnya?

Itulah inti pertanyaan saya di awal tulisan ini. "If you have a chance to change your fate, would you?"

Saya tidak dapat bayangkan apa jadinya negeri ini jika mereka para pengubah sejarah memilih untuk menerima semua yang telah ditakdirkan tanpa berusaha membentuk takdir mereka sendiri.

Saya tidak dapat bayangkan Indonesia tanpa Ki Hajar Dewantara. Jika beliau menerima takdir bahwa pendidikan memang tidak bisa diperjuangkan di negeri ini, maka tidak akan pernah ada jenjang sekolah tinggi yang membuat kita cerdas seperti sekarang ini. Beliau amat memperjuangkan sebuah konsep Taman Siswa agar anak-anak Indonesia ketika itu dapat mengenyam pendidikan yang setidaknya dapat mencerdaskan mereka. Beliau amat memegang teguh bahwa pendidikanlah tonggak dasar sebuah bangsa.

Apa jadinya jika Ki Hajar Dewantara menolak berjuang untuk takdir masa depan pendidikan indonesia?

Gambar diunduh dari sini

Saya juga tidak dapat bayangkan Indonesia tanpa lahirnya R.A. Kartini. Beliau tumbuh besar dalam sebuah takdir yang penuh dengan pertentangan dimana strata kaum wanita berada di bawah kaum pria. Beliau menolak untuk diam. Kegerakan untuk menyamakan strata pria dan wanita masih terdengar hingga kini. Emansipasi wanita yang ia perjuangkan memberi dampak bagi seluruh kaum wanita di Indonesia.

Apa jadinya jika R.A. Kartini menolak berjuang demi takdir wanita Indonesia?

Gambar diunduh dari sini

Begitu banyak orang yang masih merasa bahwa hidup itu harusnya mengalir seperti air. BODOH! Kita belajar bahwa air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Jika hidup kita mengikuti prinsip air, maka hidup kita akan terus menuju pada pemaknaan yang lebih rendah.

Ikan berenang melawan arus air. Layang-layang terbang melawan arus angin. Karena semua yang terbawa arus adalah hal yang mati. Begitu pula hidup kita. Jangan pernah merasa bahwa hidup kita harus mengikuti sebuah arus bernama takdir.

Ubah hidupmu. Tentukan takdirmu sendiri. Karena tak ada satupun orang hebat yang berhasil karena mengikuti takdir. They build their own fate.

Now, for the last time, I remembered you once again with this question: "if you have a chance to change your fate, would you?"


Gambar diunduh dari sini

Tuesday, June 12, 2012

#SepenggalSelasa - Kita Bicara Tentang Kematian



Beberapa hari silam cukup menjadi hari yang kelabu bagi seorang yang saya kenal dengan sangat baik. Ia didiagnosa dokter memiliki tekanan darah tinggi atau biasa disebut hipertensi di usianya yang masih amat muda. Fakta mencatat bahwa hipertensi merupakan "the silent killer" karena dapat berisiko tinggi bagi kesehatan namun tanpa adanya gejala-gejala yang signifikan. Hipertensi sendiri dikatakan sebagai faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan penyakit mematikan lainnya. Fakta-fakta inilah yang kemudian menjadikan hari-hari teman saya menjadi terlihat kelabu.


gambar diunduh dari sini


Ia takut mati.

Masa mudanya baik-baik saja selama ini. Ia ceria, banyak berteman, hidupnya sama sekali tidak terlihat banyak memiliki beban. Namun ketika hasil diagnosa dinyatakan tepat, ia tak lagi bersikap seperti biasa. Tak ayal ia tertekan karena kenyataan pahit tersebut. Ini bukan penyakit biasa yang secara medis mudah untuk disembuhkan. Butuh gaya hidup yang benar-benar jauh berbeda dari apa yang selama ini ia jalankan.

Fakta mengenai kematian memang selalu menyedihkan. Tak ada satupun manusia di dunia bisa menebak kapan harinya akan tiba. Hari dimana sebuah nafas tak lagi dapat dinikmati, sebuah hari tak lagi akan berganti. Kita bicara mengenai akhir dan hampir semua orang menghindari perbincangan mengenai akhir dari kehidupan, namun tidak dengan teman saya ini. Pada akhirnya, ia banyak berbincang mengenai topik terkait kematian.


gambar diunduh dari sini

Baginya kematian hanyalah sebuah fase dalam rangkaian kehidupan yang harus kita jalani. Sama seperti kita melewati masa kanak-kanak, kemudian menjadi remaja, dan menjadi orang dewasa dengan segala tanggung jawabnya, kematian juga merupakan fase yang pasti akan dilewati oleh setiap kita. Bedanya ialah tidak ada satu orangpun yang tau bagaimana ia akan melewati fase tersebut. Ia takut dengan kematian, awalnya. Hingga ia belajar tentang kehidupan.

Once you learn how to die, you learn how to live.

Kata-kata Morrie Schwartz itu muncul begitu saja. Pembelajaran mengenai kehidupan dimulai sebenarnya ketika kita belajar mengenai kematian. Andai kita tahu secara pasti kapan kita meninggalkan dunia ini, kita akan melihat kehidupan dengan sangat berbeda. Amat berbeda.

If we accept the fact that we can die at any time, we'd lead our lives differently.

Teman saya tersebut kemudian menceritakan bagaimana ia mengubah pola hidupnya, tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi masa depannya. Pernahkah kita berpikir demikian? Menjaga kesehatan kita semenjak dini untuk masa depan kita? Untuk istri atau suami kita? Untuk anak-anak kita? Masih maukah kita melihat perkembangan anak kita suatu saat nanti? Menikmati hari tua bersama dengan cucu kita? Jika ya, pandanglah kesehatan dalam kehidupan dengan cara yang berbeda.

Topik mengenai kematian membawa banyak sekali perubahan atas apa yang teman saya lakukan kepada dirinya. Ia kini tak lagi tertekan dengan kondisi penyakitnya tersebut. Sebaliknya, ia belajar bagaimana mengelola kehidupan agar menjadi lebih baik. Ia telah belajar bagaimana menerima kematian sebagai sebuah fase yang akan terjadi dalam hidupnya, sehingga ia dapat belajar bagaimana sebuah kehidupan yang penuh arti dapat membawa kebahagiaan di masa depannya.

"Dying is just one thing to sad about," katanya pelan. "Living unhappily, that's another matter."

Ia memilih untuk melanjutkan hidupnya untuk mencapai kebahagiaan. Ia memilih untuk terus berkutat dengan mimpi dan passion dalam dirinya untuk kegerakan anak-anak muda Indonesia.

Dan kematian baginya adalah sebuah pembelajaran. Tak kurang, tak lebih. Pembelajaran untuk kita bisa melihat kehidupan secara lebih baik. Lebih bermakna. Dan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan sedang menunggu di depan sana...


gambar diunduh dari sini



Monday, June 11, 2012

Gue Udah Buat Apa?


Gue lahir tahun 89. Oktober tahun ini umur gue akan genap 23 tahun. Umur yang masih tergolong muda memang, tapi entah kenapa gue merasa gak puas sama hidup gue sekarang. Bukan karena gue hidup kekurangan dan malah menyalahkan kondisi, tapi gue merasa hidup gue masih belum berjalan sebagaimana mestinya. Gue merasa bahwa gue bisa melakukan lebih dari apa yang udah gue lakukan sampai sekarang ini. Malahan gue merasa belum buat apa-apa. Belum memberikan kontribusi apa-apa.

Beberapa tahun belakangan ini gue baru jatuh cinta sama Indonesia. Ya, rasa cinta gue sama negeri ini masih seumur jagung. Pernah ada suatu masa dimana gue gak bangga tinggal Indonesia. Siapa bisa bangga tinggal di negara yang terkenal korup, sarang teroris, tingkat kemiskinan yang tinggi, politik kotor, ngakunya Bhinekka Tunggal Ika tapi gak menghargai perbedaan. Siapa yang bisa bangga sama itu semua?

Tapi semua paradigma itu berubah 180 derajat. Gue lupa kapan pastinya, tapi gue inget jelas waktu hati gue terbakar semangat saat baca buku Nasional.is.me yang dikarang @pandji. Menurut gue buku itu jadi suplemen lengkap banget buat gue untuk jatuh cinta lebih dalam sama Indonesia. Gue akhirnya sadar bahwa negeri ini masih punya harapan gede banget untuk berubah dan berkembang ke arah yang jauh lebih baik.

gambar diunduh dari sini

Sejarah mencatat bahwa perubahan besar selalu diinisiasi oleh anak muda. Perjuangan yang digagas pahlawan masa lampau juga karena pemuda. Intinya pemuda punya kekuatan yang sebegitu dahsyat untuk dapat membuat perubahan dan juga perkembangan suatu negara.

Gue mikir, 23 tahun hidup gue udah buat apa untuk negeri ini? Seenggaknya apakah gue udah buat sesuatu buat banyak orang? Atau gue terlalu sibuk sama diri sendiri sampai lupa kasih kontribusi apapun? Sebegitu egoiskah diri gue?

Selama perjalanan, gue pernah bertemu orang-orang hebat yang menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk melakukan lebih dari apa yang selama ini mereka lakukan. @alandakariza adalah salah satunya. Penulis buku terbaru dream catcher ini baru berusia 21 tahun! Kecintaannya dalam dunia menulis memampukan Alanda menerbitkan buku pertamanya pada umur 14 tahun. Ia juga memprakarsai kegerakan @IndonesianYouth dimana menjadi wadah aspirasi pemuda Indonesia yang rindu menciptakan perubahan di Indonesia. Komunitas sosial The Cure For Tomorrow yang berdiri di tahun 2006 juga hasil dari buah pikirannya. Seorang yang luar biasa buat gue. Dia juga pacar dari comic stand-up favorit gue, @adriandhy.

(@alandakariza) gambar diunduh dari sini

@imanusman menjadi pendiri Indonesian Future Leaders (IFL) ketika usianya masih 18 tahun. Hingga kini IFL menjadi salah satu komunitas pembawa inspirasi terbaik bagi ratusan bahkan ribuan anak muda di seluruh Indonesia untuk dapat menciptakan bahkan memimpin sebuah perubahan. Akhir tahun ini Iman akan berusia 21 tahun, namun penghargaan yang ia terima atas ide dan perubahan yang ia buat telah melebihi usia fisiknya. Tidak hanya penghargaan dari dalam negeri, Iman juga telah mendapat beberapa penghargaan dari luar negeri sebagai salah satu pemuda yang menjadi inspirator perubahan terbaik di negeri ini.

(@imanusman) gambar diunduh dari sini

Gak hanya di bidang pendidikan dan sosial, bidang wirausahapun sekarang ini banyak dirambah oleh kalangan muda. @bongchandra adalah salah satu wirausaha sekaligus motivator yang gue kagumi hingga sekarang. Semangatnya untuk membangun para anak muda dan banyak orang lainnya untuk berani memulai usaha menjadi poin penting mengapa ia sukses. Di usianya yang ke 22 tahun, ia berhasil membangun proyek perumahan seluas 5 hektar dengan nilai investasi Rp 180 Milyar. Selain itu, ia juga telah menulis 2 buku yang sangat memotivasi para pembaca untuk berani melakukan perubahan dalam hidupnya dan hidup sukses. Kini Bong Chandra baru berusia 25 tahun, namun ia telah memotivasi puluhan ribu orang baik di Indonesia maupun manca negara dengan ide-ide kreatif dan pengalamannya yang luar biasa.

(@bongchandra) gambar diunduh dari sini

Jika ditelaah lebih jauh lagi, masih banyak banget anak-anak muda yang telah memberi kontribusi nyata gak cuma sama banyak orang, tapi juga buat negara ini. Lantas, apa yang jadi perbedaan sebegitu signifikannya antara gue, lo dan mereka? Gue percaya Tuhan sama-sama kasih potensi dan talenta yang sebegitu luar biasanya kepada semua umat manusia. Gak ada satu orang yang dikasih potensi lebih gede dibanding yang lain. Gue percaya semua dikasih potensi dalam takaran yang sama, seukuran bibit.

Ya, buat gue Tuhan udah kasih bibit potensi ke kita semua saat kita dijadikan. Tapi yang jadi pertanyaan, bibit itu kemudian kita apakan? Gue yakin mereka yang berhasil di masa mudanya adalah mereka yang menemukan cara yang tepat untuk menumbuhkan bibit potensi dalam hidup mereka. Bukan berarti kita gak bisa seperti mereka. Kita bahkan bisa melakukan lebih dari apa yang mereka buat. Pertanyaannya: kita mau gak? Kalo mau, ayo cari cara supaya bibit potensi itu tumbuh besar dan lakukan sesuatu dengan itu. Buat kontribusi nyata. Cuma itu kuncinya.

Oleh karena pemikiran itu, gue merasa gak puas sama hidup gue. Banyak orang yang secara umur masih dibawah gue tapi kontribusi yang dia lakukan bagi banyak orang udah jauh lebih banyak daripada apa yang gue lakukan. Sejujurnya gue malu. Malu karena sampai sekarang sedikit banget hal yang gue kerjain untuk orang lain, terlebih buat negeri ini. Gue sangat merasa terbakar menumbuhkan bibit potensi gue agar bisa memberikan kontribusi nyata buat banyak orang. Buat Indonesia.

Gue rasa belum terlambat mengubah semuanya ini. Umur gue masih panjang dan masa muda gue belum habis. Gue masih bisa melakukan sesuatu dan ciptakan perubahan. Gue yakin gue bisa, dan gue mau. Gak ada alasan buat gue gak melakukan sesuatu buat Indonesia karena gue bener-bener jatuh cinta sama negeri ini. Gue juga mau tunjukkin ke dunia bahwa Indonesia masih punya harapan. Negeri ini masih punya peluang untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Dan semuanya itu harus dimulai dari pemuda.

Ya, dimulai dari lo dan gue. Pemuda Indonesia.

Sedikit mengutip kata-kata Bung Hatta: "Hanya ada satu negara yang menjadi negaraku. Ia tumbuh melalui perbuatan, dan perbuatan itu adalah perbuatanku."

(@frankie70172) koleksi foto pribadi







<< Pemuda penginisiasi perubahan bagi Indonesia selanjutnya


Tuesday, June 5, 2012

#SepenggalSelasa - Kita Bicara Tentang Kesempatan #3


Dalam sebuah acara, sempat saya ditanyakan sebuah pertanyaan yang membuat saya merefleksikan diri saya. Kira-kira bentuk pertanyaannya seperti ini: "Jika kita meninggal hari ini dan diberi kesempatan kedua untuk hidup kembali saat itu juga, apa yang ingin kita perbaiki?"

Kematian bagi banyak orang merupakan hal yang menakutkan. Terlepas dari apa kepercayaan Anda dan saya mengenai dunia setelah kehidupan, mengenai keberadaan surga ataupun neraka, mengenai kehidupan kembali, dan lain sebagainya, kematian merupakan topik yang seringkali dihindari oleh banyak orang. Kematian merupakan fase yang siapapun tak ingin cepat-cepat sampai disana. Bahkan orang yang paling rohani pun -- jika dapat -- ingin masuk surga tanpa harus melewati fase bernama kematian.

Namun, pertanyaan tersebut membawa saya kepada sebuah perenungan, apakah saya telah menemukan apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup saya? Sudahkah saya berdamai dengan diri saya sendiri? Bagaimana relasi saya dengan keluarga inti saya? Sudahkah waktu saya dipakai untuk mendekatkan diri pada mereka? Atau saya terlalu sibuk dengan dunia saya sendiri tanpa memerdulikan mereka? Bagaimana relasi saya dengan teman-teman saya? Apakah mereka akan kehilangan jika saya meninggal, atau hanya bersikap biasa saja?

Berpuluh-puluh pertanyaan terlintas begitu saja dalam sebuah perenungan. Saya tidak mengerti mengapa, tapi satu hal yang jelas saya tahu bahwa kehidupan tidak memiliki tombol "return". Keputusan kita adalah tetap berada di posisi kita sekarang atau memilih untuk berubah, memperbaiki setiap hal yang "rusak" di masa lampau.

I know that we can't go back in the past to do something right in that time, but all I know is we surely can decide to do something to fix it all in this time.

All you have to do is just decide…

Kembali pertanyaan awal, apa yang ingin kita perbaiki jika kita memiliki kesempatan kedua? Pikirkan baik-baik. Bagaimana jika itu terjadi sungguhan dalam kehidupan kita secara tiba-tiba? Siapkah kita?

Sebuah kesempatan kedua sebenarnya kita peroleh setiap pagi dalam hidup kita. Saat kita kembali membuka mata untuk melihat dunia, itu adalah kesempatan baru bagi kita. Kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru dan saat untuk memperbaiki yang lalu. Tak ada kesempatan baru yang lebih baik daripada kesempatan yang kita dapat setiap pagi. Tak ada kesempatan yang lebih berharga daripada kesempatan membuat hidup semakin baik setiap harinya. Tak ada kesempatan yang lebih besar dari ini!

Semua kembali kepada keputusan kita. Apakah kita ingin memakai setiap kesempatan tersebut untuk menjadikan diri kita semakin lebih baik serta memperbaiki setiap hubungan yang belum terjalin denganbenar, atau menganggap bahwa semua kesempatan itu merupakan kesempatan rutin biasa yang memang datang setiap hari dan tidak memiliki nilai?

Keputusan ada di tangan Anda.

You decide. You act. A GREATER you and your relationship is in your own hand. Your own decision. Decide well...


Tuesday, May 29, 2012

#SepenggalSelasa - Kita Bicara Tentang Kesempatan #2


Kesempatan biasanya datang bersamaan dengan tantangan.

Kita memang tak pernah dapat mengira kapan sebuah kesempatan datang menghampiri kita. Kesempatan adalah suatu hal yang tak dapat kita prediksi kehadirannya. Namun, satu hal yang pasti bahwa kesempatan memang datang bersamaan dengan sebuah tantangan. Kita jelas tak akan mendapat sebuah kesempatan jika kita tidak berani menghadapi tantangan.

Just think about this: opportunity comes when we see something bigger upon us, right? Would we call something usual or smaller than what we do now as an opportunity? NO! We call something as an opportunity or chance just when we know that we will be a better and greater person if we can deal with that thing.

Yes, opportunity is a big thing…

Orang besar ialah orang yang berhasil memaksimalkan kesempatan yang datang kepada mereka dengan sebaik-baiknya.   Tak ada satupun orang yang menjadi besar tanpa melalui kesempatan-kesempatan yang datang kepada mereka. Sekarang pertanyaannya ialah, apakah kita siap ketika kesempatan datang pada kita? Siapkah kita ketika sebuah promosi menghampiri? Siapkah kita saat tanggung jawab yang lebih besar diberikan pada kita? Siapkah kita saat hubungan terjalin ke jenjang yang lebih lanjut?

Are we ready yet? Because whatever the condition -- ready or not -- opportunity will come upon us, and what happen next will depend on our readiness.

Responi dengan baik setiap tantangan-tantangan kecil yang ada di depan kita. Dengan begitu kita akan siap menghadapi tantangan yang besar nantinya. Karena seringkali kesempatan datang bersamaan dengan tantangan. Perlengkapi diri kita dengan melakukan hal-hal kecil, karena dengan begitu kita akan siap menghadapi hal besar yang akan datang kepada kita.

Saya percaya satu hal bahwa ketika kita tidak bisa melakukan dengan baik hal atau kesempatan kecil yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari, maka kita juga tidak dapat melakukan dengan baik hal atau kesempatan besar yang akan datang kemudian. Apa yang kecil yang biasa kita lakukan adalah bentuk persiapan ketika suatu hal besar datang menghampiri satu saat nanti.

Kita tak pernah tahu kapan "suatu saat nanti" akan datang. Bisa besok, dua hari lagi, minggu depan, atau mungkin tahun depan. Namun satu hal yang pasti, lakukan dengan baik setiap hal kecil yang bisa kita lakukan. Tidak banyak orang yang mau mempersiapkan dirinya sebelum kesempatan datang. Masih banyak yang masih memegang pemikiran bahwa "pasti ada kesempatan kedua".

Hey, why are you waiting for second chance if you can win in the first time?

Satu-satunya hal yang dapat membuat kita menang ketika kesempatan datang adalah dengan persiapan. So, prepare yourself. Jangan menjadikan diri cuek dengan hal-hal kecil. Sebaliknya, lakukan dengan baik setiap hal sehingga bisa mempersiapkan kita menghadapi kesempatan besar di depan.

Because we never know where an opportunity can bring us...


Sebuah Pita Ungu

Sebuah tulisan untuk memperingati hari jadi Psikologi ke 20. Sebuah tulisan untuk duapuluhpsikologi.wordpress.com.

 A wise man said that God has a million ways to create some happiness in our life, even in the smallest way that we can realize. I am not a wise man, but deep in my heart, I believe…

Sebuah hal kecil yang membuat saya bahagia adalah pita ungu. Apa istimewanya sebuah pita ungu? Mari saya jelaskan.

Saya adalah seorang biasa yang lulus dari sekolah biasa. Saya bukan seorang lulusan dengan nilai terbaik, bahkan saya tidak menyandang gelar apapun saat masuk ke jenjang kuliah. Bagaimana tidak, bahkan organisasi sekolah pun enggan saya geluti karena merasa tak ada faedahnya buat saya.

Saya benar-benar bukan siapa-siapa.

Psikologi Atma Jaya menjadi tempat persinggahan saya selanjutnya. Bermodal nekat menjalani psikotes gelombang pertama menghasilkan kejutan bagi saya: saya gagal. Tidak tertera nama saya di papan pengumungan penerimaan mahasiswa baru gelombang pertama. Ya, nama saya tidak ada. Saya gagal. Saya tidak diterima. Psikologi Atma Jaya menolak saya.

Tidak ada penjelasan. Tidak ada pemberitahuan. Harapan saya hampir kandas ketika itu. Apakah seorang biasa memang tak bisa berada di tempat luar biasa? Tempat dimana banyak orang bercerita mengenai betapa istimewanya berada di kalangan fakultas tenar di Atma Jaya. Saya benar-benar hampir putus asa.

Namun beruntung bagi saya karena di kesempatan kedua saya melihat nama saya tertera di papan pengumuman penerimaan mahasiswa baru. Saya berhasil diterima. Nama saya menjadi bagian dalam keluarga besar psikologi Atma Jaya . Ya, fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Saya memang tak ingat apa yang saya lakukan untuk mengekspresikan rasa gembira saya, namun jelas saya tak bisa lupa rasa bahagianya. Rasa yang saya rasakan hingga sekarang.

Psikologi itu identik dengan warna ungu. Awalnya menjijikan bagi saya mengetahui hal tersebut. Isu beredar bahwa ungu bukanlah warna idaman. Ungu itu warna janda. Warna yang tidak menarik perhatian sama sekali. Warna yang menjadi bahan cemooh banyak orang. Betapa malunya saya ketika ternyata selama masa bimbingan di psikologi, saya diharuskan mengikat sebuah pita ungu di tangan saya yang membuktikan saya adalah mahasiswa baru dalam keluarga psikologi.

Saya bukan janda! Saya juga tidak menjalin hubungan dengan seorang janda. Ibu saya bukan janda. Mengapa harus pita ungu yang terikat di tangan saya setiap harinya? Memalukan. Sebisa mungkin saya menyembunyikan tangan saya yang terikat pita ungu. Saya tak mau dianggap janda. Saya tak mau membanggakan hal yang memalukan.

Butuh waktu satu tahun untuk merubah paradigma itu. Memutarbalikkan fakta bahwa tak ada warna janda. Ungu punya representasi artinya sendiri. Ungu itu artinya setia. Satu-satunya warna yang merepresentasikan kesetiaan. Warna yang menunjukkan sebuah ikatan kebersamaan. Setia.

Malu rasanya sempat berada pada pemahaman yang salah akan sebuah warna. Hingga sekarang, saya menyadari satu hal bahwa kebahagiaan saya sebenarnya dimulai ketika saya mengikatkan tangan saya dengan sebuah pita ungu. Saat dimana saya berada di jenjang awal dunia baru di kehidupan saya. Psikologi, yang hingga kini menjadi pijakan yang tak pernah saya sesali. Dengan segala cerita selama empat setengah tahun, saya merasa puas mengikatkan diri pada kesetiaan yang membuat saya belajar.

Satu fase kehidupan kembali dijejaki. Cerita-cerita yang berjalan bersama, kembali saya pelajari. Hingga kini saya tak lagi menyesal dan malu akan pita ungu yang terikat di tangan saya. Bagi saya makna yang terkandung di dalamnya amat kuat. Sebuah kesetiaan yang terbukti dari kebersamaan. Sebuah trademark yang selalu kami junjung tinggi, bahwa psikologi gak pernah misah-misah.

Ya, hingga kini kebahagiaan itu masih terpancar di sebuah pita ungu yang masih terikat ini. Bukan lagi di tangan, tetapi di hati. Saya bangga pernah berada di keluarga besar yang mengajarkan saya mengenai kesetiaan ini. Selamat ulang tahun Psikologi. Kesetiaanmu akan selalu ada dan teruji bagi kami. Terus sinari warna ungu-mu tanpa malu, dan teruslah setia.

Always be a little happiness for us.


Tuesday, May 22, 2012

#SepenggalSelasa - Kita Bicara Tentang Kesempatan #1


Kesempatan adalah tema yang besar bagi saya. Setiap saat dalam hidup, kita dihadapkan pada kesempatan-kesempatan yang mungkin akan memengaruhi hidup kita. Kesempatan-kesempatan yang mungkin daripadanya perubahan hidup kita dimulai. Hampir tak mungkin dalam hari yang kita lalui tak tersimpan kesempatan yang dapat kita gunakan.

The question is: do you really aware with all opportunities that came in your life? Or you just run your day over and over without realize anything?

Kesempatan seringkali datang dengan cara yang tidak terduga. Bahkan terkadang datang bersamaan dengan hal kecil yang biasa kita sepelekan. Cuek menjadi pilihan bagi kita terhadap hal-hal kecil tersebut. Namun kita selalu menggambarkan kesempatan sebagai sebuah hal atau kejadian besar yang bisa kita lihat, bisa kita rasakan sepenuhnya, sehingga kita banyak tidak memerdulikan sebuah kesempatan kecil yang mungkin memberi pengaruh besar bagi hidup kita.

Salah satu film favorit saya, Evan Almighty, merupakan sebuah film yang juga mengajarkan kepada saya mengenai sebuah kesempatan. Dimulai dengan seorang tokoh bernama Evan yang mencalonkan diri sebagai seorang kongres di Amerika dan berdoa kepada Tuhan agar membantunya untuk dapat mengubah dunia. Kemudian Tuhan menggunakan cara yang sangat tidak biasa untuk membantu Evan menjadi seorang pengubah dunia.

Pelajaran yang saya ingin bagikan bukan berada di poin tersebut. Pelajaran mengenai kesempatan datang ketika keluarga tersebut tidak lagi dapat bertahan dengan apa yang dilakukan Evan. Satu demi satu hal mulai menjadi alasan dalam memicu konflik keluarga, hingga pada satu saat sang istri tak lagi tahan dan memilih untuk meninggalkan Evan sendirian.

Dalam satu momen makan siang, Morgan Freeman yang mengambil peran sebagai Tuhan menyatakan hal yang sangat baik mengenai kesempatan kepada istri Evan yang berencana meninggalkannya, dan pembelajaran inilah yang ingin saya bagikan.

Just reflect with these questions: If someone prays for patience, you think God gives them some patience? Or does He give them the opportunity to be patient?
 If someone pray for courage, you think God gives them courage immediately? Or does He give them an opportunity to be courageous?
And if someone pray for their family to be closer, you think God zaps them with warm fuzzy feelings? Or does He give an opportunity to love each other?

Kesempatan. Sebuah peluang yang datang disaat - mungkin bagi kita - tidak tepat, namun sebenarnya dapat mengubah cara pandang kita. Arah hidup kita. Hanya kita yang terkadang sulit melihat sebuah kesempatan dalam masa sulit hidup kita.

Sekarang, apa masa sulit yang sedang kita hadapi? Kuliah, pekerjaan, keluarga, keuangan, persahabatan, hubungan? Mungkinkah di dalam masa tersebut, Tuhan sedang menyisipkan sebuah kesempatan bagi kita? Kesempatan bagi doa yang kita gumamkan kepadaNya.

Tinggal giliran kita yang menentukan sikap bagi kesempatan yang Tuhan berikan itu.

Karena kesempatan seringkali datang diluar bayangan kita, dan tidak semua hal yang datang untuk memproses kita karena sebuah kebetulan. Mungkin itu adalah jawaban dari doa kita. Sebuah kesempatan untuk memperjuangkan apa yang kita pinta.