Beberapa hari silam
cukup menjadi hari yang kelabu bagi seorang yang saya kenal dengan sangat baik.
Ia didiagnosa dokter memiliki tekanan darah tinggi atau biasa disebut
hipertensi di usianya yang masih amat muda. Fakta mencatat bahwa hipertensi
merupakan "the silent killer"
karena dapat berisiko tinggi bagi kesehatan namun tanpa adanya gejala-gejala
yang signifikan. Hipertensi sendiri dikatakan sebagai faktor risiko untuk
stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan penyakit mematikan lainnya.
Fakta-fakta inilah yang kemudian menjadikan hari-hari teman saya menjadi
terlihat kelabu.
![]() |
| gambar diunduh dari sini |
Ia takut mati.
Masa mudanya
baik-baik saja selama ini. Ia ceria, banyak berteman, hidupnya sama sekali
tidak terlihat banyak memiliki beban. Namun ketika hasil diagnosa dinyatakan
tepat, ia tak lagi bersikap seperti biasa. Tak ayal ia tertekan karena
kenyataan pahit tersebut. Ini bukan penyakit biasa yang secara medis mudah
untuk disembuhkan. Butuh gaya hidup yang benar-benar jauh berbeda dari apa yang
selama ini ia jalankan.
Fakta mengenai
kematian memang selalu menyedihkan. Tak ada satupun manusia di dunia bisa
menebak kapan harinya akan tiba. Hari dimana sebuah nafas tak lagi dapat
dinikmati, sebuah hari tak lagi akan berganti. Kita bicara mengenai akhir dan
hampir semua orang menghindari perbincangan mengenai akhir dari kehidupan, namun
tidak dengan teman saya ini. Pada akhirnya, ia banyak berbincang mengenai topik
terkait kematian.
![]() |
| gambar diunduh dari sini |
Baginya kematian
hanyalah sebuah fase dalam rangkaian kehidupan yang harus kita jalani. Sama
seperti kita melewati masa kanak-kanak, kemudian menjadi remaja, dan menjadi
orang dewasa dengan segala tanggung jawabnya, kematian juga merupakan fase yang
pasti akan dilewati oleh setiap kita. Bedanya ialah tidak ada satu orangpun
yang tau bagaimana ia akan melewati fase tersebut. Ia takut dengan kematian,
awalnya. Hingga ia belajar tentang kehidupan.
Once you learn how to die, you learn how to live.
Kata-kata Morrie
Schwartz itu muncul begitu saja. Pembelajaran mengenai kehidupan dimulai
sebenarnya ketika kita belajar mengenai kematian. Andai kita tahu secara pasti
kapan kita meninggalkan dunia ini, kita akan melihat kehidupan dengan sangat
berbeda. Amat berbeda.
If we accept the fact that we can die at any time,
we'd lead our lives differently.
Teman saya tersebut
kemudian menceritakan bagaimana ia mengubah pola hidupnya, tak hanya bagi
dirinya sendiri, tapi juga bagi masa depannya. Pernahkah kita berpikir
demikian? Menjaga kesehatan kita semenjak dini untuk masa depan kita? Untuk
istri atau suami kita? Untuk anak-anak kita? Masih maukah kita melihat
perkembangan anak kita suatu saat nanti? Menikmati hari tua bersama dengan cucu
kita? Jika ya, pandanglah kesehatan dalam kehidupan dengan cara yang berbeda.
Topik mengenai
kematian membawa banyak sekali perubahan atas apa yang teman saya lakukan
kepada dirinya. Ia kini tak lagi tertekan dengan kondisi penyakitnya tersebut.
Sebaliknya, ia belajar bagaimana mengelola kehidupan agar menjadi lebih baik.
Ia telah belajar bagaimana menerima kematian sebagai sebuah fase yang akan
terjadi dalam hidupnya, sehingga ia dapat belajar bagaimana sebuah kehidupan
yang penuh arti dapat membawa kebahagiaan di masa depannya.
"Dying is just one thing to sad about,"
katanya pelan. "Living unhappily, that's
another matter."
Ia memilih untuk
melanjutkan hidupnya untuk mencapai kebahagiaan. Ia memilih untuk terus
berkutat dengan mimpi dan passion dalam
dirinya untuk kegerakan anak-anak muda Indonesia.
Dan kematian baginya
adalah sebuah pembelajaran. Tak kurang, tak lebih. Pembelajaran untuk kita bisa
melihat kehidupan secara lebih baik. Lebih bermakna. Dan kehidupan yang penuh
dengan kebahagiaan sedang menunggu di depan sana...
![]() |
| gambar diunduh dari sini |



No comments:
Post a Comment