Tuesday, June 12, 2012

#SepenggalSelasa - Kita Bicara Tentang Kematian



Beberapa hari silam cukup menjadi hari yang kelabu bagi seorang yang saya kenal dengan sangat baik. Ia didiagnosa dokter memiliki tekanan darah tinggi atau biasa disebut hipertensi di usianya yang masih amat muda. Fakta mencatat bahwa hipertensi merupakan "the silent killer" karena dapat berisiko tinggi bagi kesehatan namun tanpa adanya gejala-gejala yang signifikan. Hipertensi sendiri dikatakan sebagai faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan penyakit mematikan lainnya. Fakta-fakta inilah yang kemudian menjadikan hari-hari teman saya menjadi terlihat kelabu.


gambar diunduh dari sini


Ia takut mati.

Masa mudanya baik-baik saja selama ini. Ia ceria, banyak berteman, hidupnya sama sekali tidak terlihat banyak memiliki beban. Namun ketika hasil diagnosa dinyatakan tepat, ia tak lagi bersikap seperti biasa. Tak ayal ia tertekan karena kenyataan pahit tersebut. Ini bukan penyakit biasa yang secara medis mudah untuk disembuhkan. Butuh gaya hidup yang benar-benar jauh berbeda dari apa yang selama ini ia jalankan.

Fakta mengenai kematian memang selalu menyedihkan. Tak ada satupun manusia di dunia bisa menebak kapan harinya akan tiba. Hari dimana sebuah nafas tak lagi dapat dinikmati, sebuah hari tak lagi akan berganti. Kita bicara mengenai akhir dan hampir semua orang menghindari perbincangan mengenai akhir dari kehidupan, namun tidak dengan teman saya ini. Pada akhirnya, ia banyak berbincang mengenai topik terkait kematian.


gambar diunduh dari sini

Baginya kematian hanyalah sebuah fase dalam rangkaian kehidupan yang harus kita jalani. Sama seperti kita melewati masa kanak-kanak, kemudian menjadi remaja, dan menjadi orang dewasa dengan segala tanggung jawabnya, kematian juga merupakan fase yang pasti akan dilewati oleh setiap kita. Bedanya ialah tidak ada satu orangpun yang tau bagaimana ia akan melewati fase tersebut. Ia takut dengan kematian, awalnya. Hingga ia belajar tentang kehidupan.

Once you learn how to die, you learn how to live.

Kata-kata Morrie Schwartz itu muncul begitu saja. Pembelajaran mengenai kehidupan dimulai sebenarnya ketika kita belajar mengenai kematian. Andai kita tahu secara pasti kapan kita meninggalkan dunia ini, kita akan melihat kehidupan dengan sangat berbeda. Amat berbeda.

If we accept the fact that we can die at any time, we'd lead our lives differently.

Teman saya tersebut kemudian menceritakan bagaimana ia mengubah pola hidupnya, tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi masa depannya. Pernahkah kita berpikir demikian? Menjaga kesehatan kita semenjak dini untuk masa depan kita? Untuk istri atau suami kita? Untuk anak-anak kita? Masih maukah kita melihat perkembangan anak kita suatu saat nanti? Menikmati hari tua bersama dengan cucu kita? Jika ya, pandanglah kesehatan dalam kehidupan dengan cara yang berbeda.

Topik mengenai kematian membawa banyak sekali perubahan atas apa yang teman saya lakukan kepada dirinya. Ia kini tak lagi tertekan dengan kondisi penyakitnya tersebut. Sebaliknya, ia belajar bagaimana mengelola kehidupan agar menjadi lebih baik. Ia telah belajar bagaimana menerima kematian sebagai sebuah fase yang akan terjadi dalam hidupnya, sehingga ia dapat belajar bagaimana sebuah kehidupan yang penuh arti dapat membawa kebahagiaan di masa depannya.

"Dying is just one thing to sad about," katanya pelan. "Living unhappily, that's another matter."

Ia memilih untuk melanjutkan hidupnya untuk mencapai kebahagiaan. Ia memilih untuk terus berkutat dengan mimpi dan passion dalam dirinya untuk kegerakan anak-anak muda Indonesia.

Dan kematian baginya adalah sebuah pembelajaran. Tak kurang, tak lebih. Pembelajaran untuk kita bisa melihat kehidupan secara lebih baik. Lebih bermakna. Dan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan sedang menunggu di depan sana...


gambar diunduh dari sini



No comments:

Post a Comment