Kalimat tersebut merupakan tema yang coba diusung oleh tim panitia pelaksana dalam perjalanan gue dan segenap anak-anak Psikologi ke pantai Sawarna Banten kemarin.
Tanggal 1-4 Maret 2012 jadi tanggal bersejarah karena salah satu keindahan Indonesia, the hidden paradise, berhasil gue kunjungin dan eksplor keindahannya. Capek memang perjalanan menuju kesana, tapi melihat keindahan dan pengalamannya, semua rasa lelah itu terbayar sudah.
2 Maret 2012, hari pertama di Sawarna:
Check point pertama Amazing race kami adalah di sekitar pantai Sawarna dimana kami berkumpul pada awalnya. Kira-kira hanya sekitar 200 meter dari tempat permainan voli pantai. Setelah cukup jauh tertinggal dari kelompok lainnya, kami mencoba peruntungan di pos pertama tersebut.
Dua belas garis sejajar pendek telah dibuat di atas pasir oleh pihak panitia. Ternyata pos pertama ialah pos hangman, dimana kami diminta untuk menebak kata yang menjadi pemenuhan garis kosong tersebut.
Dua belas huruf. Dua kata. Satu kalimat.
Dengan berbagai clue yang diberikan, satu per satu dari kami berusaha menebak setiap huruf yang memungkinkan dapat membentuk kata tersebut. Tak banyak kata yang harus kami tebak memang, dan hal tersebut memudahkan kami untuk menebak kata yang tersembunyi di balik permainan tersebut.
Hanya dalam waktu kurang dari 5 menit, kami berhasil menebak kata yang tersembunyi di dalam sana, yang ternyata merupakan nama tempat dimana pos selanjutnya berada: Tanjung Layar.
Tanjung Layar merupakan tempat eksotis yang seringkali menjadi tempat persinggahan para turis untuk menikmati matahari terbit. Tempat lainnya yang menjadi saksi keindahan pantai Sawarna di Indonesia ini...
Perjalanan ke Tanjung Layar tidak terlalu sulit. Jalan setapak memimpin jalan kami ke tempat yang menjadi favorit persinggahan tersebut. Gue sendiri menikmati perjalanan karena di kanan-kiri jalan setapak itu banyak sawah dan pepohonan-pepohonan rindang yang awam banget gue jumpai di Jakarta. Gue bahagia keluar sejenak dari hiruk pikuk dan penatnya kepadatan ibu kota.
Dan perjalanan sekitar 1 kilometer mengantar gue dan temen-temen satu kelompok ke sebuah tebing tinggi besar yang indah banget. Gue sampe di tempat favorit hampir semua turis yang pernah dateng di Sawarna.
Gue di Tanjung Layar.
Asumsi gue, kenapa dinamain tanjung layar adalah karena bentuk tebing menjulang yang ada di tengah laut di daerah itu. Tebing menjulang itu memang disebut tanjung, dan kenapa dinamain layar, mungkin karena tanjung tersebut membentang cukup tinggi hingga meyerupai bentangan layar sebuah kapal. Nggak semerta-merta berbentuk layar, tapi gue asumsikannya seperti itu. Sok tau memang, tapi gue tertarik aja sama namanya... J
Tanjung layar itu adanya di tengah laut, dan ternyata memang gak sulit untuk mencapai kesana. Kalo air laut nggak pasang, kita sebenernya bisa aja jalan menyusuri pasir di pantai untuk sampai ke tanjung layar tersebut. Tapi karena pas gue sampe sana, air laut sedang pasang, gue dan temen-temen lainnya harus rela basah karena harus menyusuri laut untuk sampai kesana. Gak tinggi kok. Cuma sebatas pinggang aja. Dan akhirnya gue berhasil sampai di tanjung layar. Menyentuh eksotisme alam yang sungguh luar biasa indahnya.
Tanjung Layar.
Setelah puas menyusuri laut demi menyentuh eksotisme alam, gue dan temen-temen satu kelompok diajak untuk menghafal rules yang memang menjadi ciri khas Sawarna itu sendiri. Kami memang pengunjung dan kami belajar untuk menjadi pengunjung yang baik. Tempat ini bukanlah hasil jerih payah tangan manusia. Kuasa yang di luar nalarlah yang menjadikan itu semua. Segala keindahan dan mempesonanya alam Sawarna tetap harus dijaga, dan demi menjaga semuanya itu, dibuatlah peraturan yang sayangnya seringkali diacuhkan pengunjung.
Kami diajar untuk mentaati peraturan tersebut.
Menjaga kebersihan di sekitar lingkungan desa Sawarna
Menjaga kelestarian di sekitar lingkungan desa Sawarna
Mentaati tata krama di desa Sawarna
Yah, gue gak ngerti banyak sih tentang tata krama di sana. Tapi yang jelas, gue sadar kalo gue harus jaga kebersihan dan kelestarian Sawarna ini. Gue cuma gak mau pantai ini jadi pantai kotor seperti pantai yang sering dikunjungin sama pengunjung gak bertanggung jawab di Jakarta.
Then, setelah menghafal semua peraturan itu, kami diperbolehkan makan siang. Bekal makan siang memang udah kami siapkan sejak pagi. Hanya nasi dan sepotong ayam, tapi nikmat banget karena wangi laut menambah nafsu makan gue. Gue lupa kapan terakhir kali makan sambil ditemenin desiran ombak di tepi pantai. Yang jelas, momen kayak gini yang gak bisa digantiin sama apapun.
Ketenangan pantai. It's just like, you come deeper in your inner peace.
Alam sebegitu luar biasanya emang. Bagi gue terutama. Karena alam, gue merasa tenang. Amat tenang. Gue merasa bahwa Tuhan sedang turut serta berkecimpung dalam meracik komposisi damai dengan menggunakan angin, ombak, dan wangi laut di pantai. Sempurna buat gue yang merindukan ketenangan alam setelah muak dengan hiruk pikuk di tengah kota.
Setelah makan dan cukup istirahat, satu per satu kelompok mulai meninggalkan tanjung layar sesuai dengan urutannya. Dan benar saja, kelompok gue ada di urutan paling belakang. Tengah siang yang terik harus kita lalui buat pemberhentian berikutnya dalam amazing race hari itu: Goa Lalay...
What? Goa? Alay?
Oke absurd. Namanya absurd.
Gue rasa cuma anak alay yang bisa masuk goa itu. Dan berhubung gue gak mirip sama Andhika Kangen band, gue agak sedikit menolak menuju destinasi itu. Tapi apa boleh buat, gue gak bisa nolak. Ini kan perjalanan bersama. Dan diliat dari namanya yah, kayaknya bentuknya sih bakalan goa.
Goa. Di Sawarna. Tempat yang terkenal sama pantainya. Dan kita menuju goa?
Yah terlepas dari ke-absurd-an namanya, sejujurnya gue pengen banget coba eksplor goa. Film sanctum yang gue tonton di bioskop membuat gue pengen rasain yang namanya menjelajahi goa itu seperti apa. Lagi-lagi bukan karena mau sombong, tapi karena gue tertantang liat keindahan goa secara langsung. Tepat dengan mata kepala gue sendiri. Goa dengan segala arsitekturnya. Arsitektur alam. Yang juga bukan hasil tangan manusia, tapi kuasa di luar nalar. Tangan Tuhan sendiri.
Perjalanan ke goa lalay adalah perjalanan terjauh gue pertama selama di Sawarna. Gue pikir jarak homestay ke tanjung layar aja udah lumayan jauh tuh. Kira-kira 45 menit jalan kaki lah. Nah, posisi goa lalay ini sekitar satu jam perjalanan dari homestay. Kalo jalan kaki dari tanjung layar ke goa lalay, bisa dibayangin lah jauhnya seberapa. Gue merasa jalan kaki dari kampus gue di Sudirman, pulang ke rumah gue di bilangan Cempaka Putih. Jalan kaki. Tengah siang dan matahari terik.
Perfect!
Sepanjang perjalanan gue cuma bisa senyum-senyum kecil. Antara senyum kecut dan senyum bahagia yang diblender jadi satu. Senyum kecut karena gue merasa perjalanan gak nemu tujuannya. Jauhnya luar biasa. Panasnya bener-bener bakar kulit gue. Belang antara lengan yang ketutup baju dan yang langsung kebakar matahari bisa dengan jelas keliatan di hari pertama gue di Sawarna.
Senyum bahagia karena gue berhasil wujudin mimpi gue untuk mencoba eksplor goa. Dan sekali lagi gue beruntung, karena gue eksplor di Sawarna. Tempat yang sama sekali gak gue ekspektasikan ada goa. But, it's true. I didn't believe that I can explore any cave in that place. I think it's just full of beach and sea.
Gue semakin penasaran. Apa ya kira-kira yang bakal gue eksplor di sana?








No comments:
Post a Comment