Wednesday, December 26, 2012

[Bukan] Selesai...

Blog ini beneran mati suri...

Liat last post, dan ternyata tulisan terakhir gw tentang puasa...
5 bulan belakangan, gw pake buat puasa nulis juga ternyata.

Menumpuknya hal yang harus dikerjakan dan menumpuknya rasa malas pada akhirnya berhasil buat gw vakum menulis. Sungguh membuat gw menarik napas panjang.

Anyway, ini sudah akhir tahun.
Resolusi?
Tampaknya masih jauh dari kata "tercapai".

Tapi melihat kebelakang, banyak banget yang seharusnya patut disyukuri.
Banyak. Banyak banget.
Dan gw gak menyesal.

2013 cuma sebuah tahun yang baru. Kalender lama kita tutup, dan biarlah kita tutup dengan perasaan bangga.
Bangga bahwa kita cukup kuat untuk lewati semua.
Dan resolusi baru dimulai. Sebuah langkah yang menatap kedepan.

Dan lembaran baru kembali kita buka.
Ini bukan akhir, tapi awal,
Ini belum selesai, tapi baru dimulai.

Dan tahun-tahun terbaik sudah menunggu di depan.
Ya, gw siap...


Tuesday, July 31, 2012

Iman Mereka Kayaknya Gak Tipis Deh!

Ah lama gak nulis di blog...
Berbulan-bulan tampaknya blog ini sepi gak ada penunggunya.
Banyak alasan memang, tapi biarlah itu jadi alasan. Karena gue sadar betul bahwa alasan gak akan membawa kita kemana-mana. Alasan cuma jadi tameng atas kesalahan yang mungkin memang kita lakukan dengan sengaja. Jadi, biarlah alasan menjadi alasan. Maaf ya blog ini jadi seperti mati suri.

Tapi gue akan usahakan untuk rajin nulis lagi kok. Hehe.

Mengakhiri bulan ini banyak hal yang gue pikirin sih. Sudah lebih dari setengah tahun lewat. Terus apa yang udah gue lakukan? Berapa banyak resolusi yang udah tercapai? Sudahkah gue bertambah dewasa semenjak awal tahun kemarin?

Ah, rasanya waktu cepet banget berlalu ya. Kayaknya baru kemarin deh gue mikirin mau ngapain aja di tahun 2012 nanti. Kayaknya baru kemarin membuat list panjang refleksi akan tahun 2011 yang akan berakhir. Sekarang, udah lewat tengah tahun 2012 aja. Bener-bener gak terasa sama sekali.

Apapun itu, bulan-bulan ini adalah bulan yang cukup menyenangkan bagi gue. Kenapa? Karena sebentar lagi lebaran!! Yeay!!

Bukan, gue memang gak merayakan lebaran. I'm not a moslem. Tapi gue suka banget sama lebaran. Selain karena Jakarta akan lenggang karena banyaknya orang Jakarta yang kemudian mudik ke kotanya masing-masing, lebaran itu identik sama ketupat dan rendang. I love those foods SO MUCH! Gue bisa makan makanan itu berhari-hari tanpa bosen. Salah satu makanan favorit yang gak akan gue tinggalkan.


Bicara tentang lebaran, selalu kita gak bisa lepaskan sama ibadah yang biasa dilakukan umat muslim, yaitu ibadah puasa. Setiap kali bulan puasa, gue selalu geregetan. Bukan geregetan sama yang puasa, justru gue geregetan banget sama orang-orang yang gak puasa.

Gak dimana juga, orang-orang yang gak puasa sebisa mungkin menghindari makan dan minum di depan orang yang puasa. Ya, gak salah sih memang. Tapi kalo alesannya buat menghargai orang muslim, buat gue kok agak bodoh ya?

Gini, puasa itu dijalanin setiap tahunnya. Selain mereka diajarin tahan lapar dan haus, mereka juga diajarin untuk menahan hawa nafsu mereka. Secara gak langsung, mereka diajar untuk gak cepet celamitan pas liat orang lain makan dan minum di depan mereka.

Paling risih sebenernya liat ormas-ormas yang mengaku sebagai pembela, tapi secara paksa menutup rumah-rumah makan karena dianggap menggoda iman umat muslim yang berpuasa.

Ayolah, iman mereka gak setipis itu kali!

Gak perlulah kita menahan makan dan minum kita di depan orang yang puasa. Justru dengan tetap menjadi apa adanya kita, yang bisa makan dan minum dengan leluasa, kita menghargai mereka yang puasa. Betul gak?

Dengan tetap melakukan aktivitas seperti biasa, termasuk makan dan minum, di depan orang yang berpuasa artinya kita sadar bahwa ia tidak mudah tergoda dan bisa melanjutkan puasanya dengan baik. Dengan cara seperti itu, menurut gue, kita menghargai mereka. Kita tidak menganggap iman mereka lemah, tapi sebaliknya dapat mampu menghadapi kondisi-kondisi seperti biasanya.


So, hargailah mereka yang berpuasa. Bukan dengan tidak makan dan minum di depan mereka, tapi dengan cara melakukan aktivitas seperti biasa di depan mereka. Kalau masih ketemu orang-orang yang sebegitu menutup makanan dan minumannya karena ada yang puasa, bilang aja gini: "iman mereka kayaknya gak tipis deh!"

Selamat berpuasa bagi teman-teman yang menjalankan.. Proud of you all guys.

Gambar diunduh dari sini

Tuesday, June 26, 2012

#SepenggalSelasa - Kita Bicara Tentang Takdir #2


Berbicara mengenai takdir, saya selalu teringat akan satu tokoh yang amat menginspirasi saya semenjak beberapa tahun belakangan ini. Saya memang tak pernah bertemu muka dengan muka , namun saya sangat berharap dapat belajar secara langsung dari sosok yang menjadi tokoh inspirasional dunia tersebut.

Ia memang berbeda. Bukan karena telah menciptakan hal-hal yang spektakuler ataupun bergaya mewah dan glamor, ia berbeda secara harafiah. Setiap orang yang melihatnya pasti akan menyadari kekurangan yang ada pada fisiknya. Ia dilahirkan tanpa anggota tubuh yang lengkap. Ia adalah Nick Vujicic yang kini menjadi pembicara dan motivator terkenal di dunia karena cerita mengenai hidupnya.


Gambar diunduh dari sini


Darinya saya belajar, "actually we had our own fate from the past, but we can decide our fate in the future by decide how you accept yourself and act differently to change it."

Seorang yang lahir tidak sempurna. Takdir masa lalunya yang menjadikan dirinya seperti itu. Tak ada yang bisa dilakukan. Tak ada yang bisa diubah. Beberapa kali Nick masih menyatakan bahwa ia masih ingin merasakan hidup dengan anggota tubuh normal selayaknya orang lain di luar sana. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya berjalan dengan kaki dan menulis dan melakukan aktivitas lainnya dengan menggunakan tangan.

Bukankah kita mempunyai cerita yang mirip dengan Nick? Mungkin kita dilahirkan dengan anggota tubuh yang lengkap. Kita masih dapat berjalan dan beraktivitas layaknya orang normal lainnya. Namun, bukankah kita sama bahwa ada bagian dalam masa lalu kita yang tidak bisa kita ubah? Ada takdir yang memang direncanakan Tuhan untuk kita menjalaninya? Bagi Nick, takdir yang tidak bisa ia ubah adalah kenyataan bahwa ia lahir tidak sempurna. Kita? Anda dan saya masing-masing punya takdir seperti itu, bukan? Takdir yang memang direncanakan untuk kita terima dan jalani tanpa dapat dikompromikan sebelumnya.

There are some things in life that are out of our control that we can't change and we have got to live with. The choice that we have, though, is either to give up or keep on going.

Gambar diunduh dari sini


Banyak hal dalam hidup kita yang tidak bisa kita pilih sebelumnya. Semua masa lalu kita yang menjadikan kita menjadi seperti sekarang ini. Namun masa depan kita adalah hasil dari apa yang kita putuskan hari ini. Apa yang ingin kita putuskan? Menyerah karena takdir yang membawa kita seperti sekarang ini dan terlalu sulit untuk bisa kita ubah? Atau memilih untuk terus berjuang menciptakan takdir yang indah bagi masa depan kita?

Saya menulis ini bukan untuk mengatakan bahwa saya mengerti apa yang Anda rasakan. Saya mungkin tidak mengerti bagaimana rasanya berada dalam sebuah takdir yang tak dapat Anda hindari sekarang ini. Saya menulis ini hanya untuk mengatakan bahwa ini bukanlah sebuah akhir. Hidup yang kita jalani sekarang bukanlah akhir.

It's just only the beginning.

Kita semua hidup dengan sebuah takdir di tangan kita. Takdir yang tak bisa kita ubah. Namun, tetap membiarkan hidup dalam takdir yang sama dan tidak mencoba untuk membuat hidup kita lebih baik adalah sebuah kebodohan dan kesia-siaan dalam hidup. Build your own future fate. Find your destiny in your life.

Mengutip kata-kata dalam film animasi Brave garapan Pixar dan Disney, bahwa fate actually already within us. The question next is, are we brave enough to see it and believe?

Percayakah kita bahwa kita bisa merubah takdir kita di masa depan? Beranikah kita untuk percaya bahwa masih banyak hal-hal besar yang dapat kita lakukan? Dan pertanyaan terakhir, maukah kita melakukan hal-hal yang tidak biasa untuk mengubah takdir kita di masa depan?

Nick Vujicic adalah bukti nyata dunia bahwa takdir masa lalu tidak menjadi alasan untuk kita dapat merubah takdir masa depan kita. Keterbatasannya tidak menjadikan Nick sebagai orang yang menutup diri dan menyalahkan keadaan. Sebaliknya, ia dapat mengatasi semuanya itu dan menjadi sosok diri yang lebih baik.

Tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah. Dan pilihan masih terpampang jelas di hadapan kita.

...because you can have a better fate than that you have right now.


Tuesday, June 19, 2012

#SepenggalSelasa - Kita Bicara Tentang Takdir #1


"If you have a chance to change your fate, would you?"

Gambar diunduh dari sini

Kata-kata tersebut saya dapatkan dalam trailer sebuah film animasi yang tampaknya akan meraih sukses di masa perputarannya. Saya merasa bahwa kata-kata tersebut begitu bermaknanya untuk saya telaah dan renungkan sepanjang beberapa hari ini. Beberapa pemaknaan baru akan hidup hadir ketika saya meluangkan waktu untuk merenungkan hal-hal tersebut. Mengenai takdir, dan mengenai hidup.

Banyak orang merespon pertanyaan tersebut kepada saya dengan jawaban-jawaban "I wouldn't", "It's a privilege born with this fate", "I'm satisfied enough".  Saya tidak mengerti mengapa mereka menjawab hal-hal demikian. Apakah mereka cukup puas dengan keadaan hidupnya dan merasa bahwa hidupnya telah memberikan arti yang signifikan? Apakah mereka begitu saja menerima takdir yang ada di depan mereka?

Tampaknya banyak orang masih salah kaprah dengan pertanyaan tersebut. Mereka menganggap bahwa takdir adalah masa lalu yang menjadikan setiap mereka seperti sekarang ini. Bagi saya, jika takdir didefinisikan sebagai hal tersebut, saya juga merasa puas dengan kondisi saya. Tak sedikitpun bagian dari diri saya yang ingin saya rubah dalam masa lalu saya.

But life is supposed to live forward, right?

Kita memang tidak bisa mengubah masa lalu, namun jelas kita bisa memilih masa depan kita. Our future is not a fate, it's in our decision. Jika kita tahu bahwa masa depan kita tidak akan berjalan dengan baik jika kita terus menerus menjadi diri kita seperti yang sekarang, akankah kita merubahnya?

Itulah inti pertanyaan saya di awal tulisan ini. "If you have a chance to change your fate, would you?"

Saya tidak dapat bayangkan apa jadinya negeri ini jika mereka para pengubah sejarah memilih untuk menerima semua yang telah ditakdirkan tanpa berusaha membentuk takdir mereka sendiri.

Saya tidak dapat bayangkan Indonesia tanpa Ki Hajar Dewantara. Jika beliau menerima takdir bahwa pendidikan memang tidak bisa diperjuangkan di negeri ini, maka tidak akan pernah ada jenjang sekolah tinggi yang membuat kita cerdas seperti sekarang ini. Beliau amat memperjuangkan sebuah konsep Taman Siswa agar anak-anak Indonesia ketika itu dapat mengenyam pendidikan yang setidaknya dapat mencerdaskan mereka. Beliau amat memegang teguh bahwa pendidikanlah tonggak dasar sebuah bangsa.

Apa jadinya jika Ki Hajar Dewantara menolak berjuang untuk takdir masa depan pendidikan indonesia?

Gambar diunduh dari sini

Saya juga tidak dapat bayangkan Indonesia tanpa lahirnya R.A. Kartini. Beliau tumbuh besar dalam sebuah takdir yang penuh dengan pertentangan dimana strata kaum wanita berada di bawah kaum pria. Beliau menolak untuk diam. Kegerakan untuk menyamakan strata pria dan wanita masih terdengar hingga kini. Emansipasi wanita yang ia perjuangkan memberi dampak bagi seluruh kaum wanita di Indonesia.

Apa jadinya jika R.A. Kartini menolak berjuang demi takdir wanita Indonesia?

Gambar diunduh dari sini

Begitu banyak orang yang masih merasa bahwa hidup itu harusnya mengalir seperti air. BODOH! Kita belajar bahwa air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Jika hidup kita mengikuti prinsip air, maka hidup kita akan terus menuju pada pemaknaan yang lebih rendah.

Ikan berenang melawan arus air. Layang-layang terbang melawan arus angin. Karena semua yang terbawa arus adalah hal yang mati. Begitu pula hidup kita. Jangan pernah merasa bahwa hidup kita harus mengikuti sebuah arus bernama takdir.

Ubah hidupmu. Tentukan takdirmu sendiri. Karena tak ada satupun orang hebat yang berhasil karena mengikuti takdir. They build their own fate.

Now, for the last time, I remembered you once again with this question: "if you have a chance to change your fate, would you?"


Gambar diunduh dari sini