Wednesday, February 26, 2014

Sebuah Langkah Awal Berbisnis



Wise man said that the best inspiration is the inspiration that been shared.

Kita semua kenal Pak Ciputra. Seorang pebisnis besar yang telah mengembangkan begitu banyak perumahan yang luar biasa sukses dan menjadi pengusaha properti yang cukup disegani di dunia. Selain itu, pengusaha yang biasa dipanggil Pak Ci ini mulai berkiprah di bidang pendidikan dan mengembangkan sebuah sekolah bisnis yaitu Universitas Ciputra.
Karena perkembangan teknologi dan modernisasi, Universitas Ciputra mulai melebarkan sayapnya dengan mengadakan sekolah online, yang dikenal dengan Universitas Ciputra Entrepreneur Online (UCEO). Beberapa minggu yang lalu, dimulai sebuah program baru bernama T100 atau Tumbuh 100x dimana Pak Ciputra ingin membagikan inspirasi bagi para pengusaha untuk memiliki mindset yang bertumbuh (growth mindset) agar bisa mengembangkan bisnis yang dijalankan.

Menurut survey, sebuah negara menjadi negara maju saat negaranya memiliki setidaknya 4% wirausaha dari total jumlah penduduknya. Sebagai gambaran, Singapura memiliki 7,2% wirausaha, Malaysia memiliki 4% wirausaha, sedangkan Indonesia hanya 1,56% wirausaha dari total jumlah penduduknya.

Oleh sebab itu, keberadaan Pak Ciputra dan para pengusaha lainnya yang tergabung dalam program T100 menjadi penting agar para pengusaha mulai untuk serius mengembangkan bisnisnya, sekaligus membuat para pemula bisnis untuk berani mengambil langkah dengan memiliki pola pikir yang benar terhadap bisnis.

Saya pribadi merupakan pebisnis pemula. Saya memiliki brand printing saya sendiri. Namun masih belum memiliki tempat sendiri untuk akhirnya bisa menyatakan kepemilikan saya atasnya. Selama ini, saya tidak pernah mendalami ilmu wirausaha, saya hanya banyak mendengar cerita dari teman-teman para wirausaha dan meihat bagaimana mereka berjuang. Kali ini saya mencoba belajar mengenai ilmu wirausaha dari program T100 ini. Pembelajaran mengenai pengembangan usaha yang saya dapat beragam. Dimulai dari pola pikir untuk bertumbuh, berani bermimpi, dan yang paling penting berani untuk memulai.

Sedikit bercerita mengenai bisnis yang saya bangun, saya memulai bisnis percetakan tersebut sedari saya kuliah. Dimulai dari peluang mengenal industri percetakan termurah di Jakarta, hingga saya memilih membuat brand saya sendiri sebagai pemberi jasa percetakan yang memberi nilai tambah kepada orang lain. Namun sayangnya, saya hanya menjadikan bisnis saya ini sebagai sambilan dan bukan sebagai bisnis inti.
Dari pembelajaran di T100 ini membuat saya semakin yakin bahwa wirausaha besar selalu dimulai dari mindset yang besar dan tidak takut untuk mengambil langkah maju. 

Saya? Ya saya sadar belum memiliki pola pikir itu sepenuhnya. Saya masih takut untuk mengambil langkah pasti untuk mengembangkan bisnis saya. Oleh sebab itu saya ingin belajar. Oleh sebab itu saya mencari tahu. Saya beruntung dikelilingi orang-orang yang tidak ragu memberikan pengetahuannya agar orang lain juga bisa sukses seperti mereka. Dari mereka saya belajar memiliki pola pikir untuk berkembang. Dari mereka saya belajar untuk memulai. Dan dari mereka saya belajar untuk memberi nilai berbeda.

Berbisnis menjadi mimpi saya semenjak kuliah. Dunia saya bukan di kantor milik orang lain. Saya harus punya bisnis saya sendiri. Saya harus punya kantor saya sendiri. Dan untuk mencapai kesana, saya harus berani untuk memulai. Dan sebelum memulai, saya perlu punya pola pikir yang benar mengenai bisnis yang berkembang.

Maybe this is only a little step, but for me, I'm really sure that this small step will take me to the summit of success mountain. Just wait me there. 

Sunday, February 17, 2013

Rectoverso

"Dunia tidak lagi sama.
Hidup ini menjadi asing.
Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutahu.
Aku galau untuk sesuatu yang tak ada.
Dan jari ini ingin menunjuk sesuatu
yang bisa menjadi sebab, tapi tak kutemukan apa-apa.
Pada saat yang sama, seluruh sel tubuhku berkata lain.
Mereka tahu sesuatu yang tak dapat digapai pikiran.
Apa rasanya, jika tubuhmu sendiri menyimpan rahasia darimu?"

-Dee, Rectoverso.

Tuesday, February 5, 2013

Provident Future: Sebuah Langkah Untuk Hidup Lebih Bermakna


Sekitar tahun 2009 kata "passion" mulai booming di Indonesia. Buku-buku yang menjelaskan tentang apa itu passion mulai diterbitkan. Pembicara-pembicara lokal mulai melafalkan mengenai bekerja dengan karya.

4 tahun perkenalan cukup menjadi patokan bagi banyak orang memikirkan kembali pekerjaannya. Kembali memikirkan apa yang membuatnya bergairah. Kembali memikirkan makna hidup mereka.

Saya sendiri memikirkan kembali hidup saya setelah mengulik sedikit mengenai passion.

Untungnya, saya masih duduk di bangku kuliah ketika belajar tentang passion. Jadinya nggak perlu ngabisin waktu lebih banyak untuk keluar masuk kerjaan untuk nemuin pekerjaan yang saya bener-bener suka.

Intinya, saya beruntung menjadi salah satu dari sekian banyak yang menemukan kecintaannya (baca: passion) saat usia yang masih muda.

Sekarang saya gregetan. Greget karena liat begitu banyak anak muda yang sebenernya punya potensi yang begitu luar biasa tapi mereka sendiri gak tau kalo mereka nyimpen kekuatan yang bisa ubah banyak hal. Bahkan dunia.

Saya belajar bahwa cuma ada 2 jenis pemuda: pemuda yang menuntut perubahan dan pemuda yang menciptakan perubahan. Saya ingin menjadi keduanya.

Nah, gregetan saya terhadap anak-anak muda dan passion-nya menemukan jalan terang. Bulan Oktober 2012 lalu secara tidak sengaja saya bertemu dengan @stevewirawan di sebuah kelas Public Speaking. Dari sana saya dibawa mengenal sebuah kegerakan yang menurut saya luar biasa: Provident Future.




@stevewirawan dan @rickabaroza merupakan inisiator dari kegerakan ini. Saya bersama dengan @kireinayodhia bergabung setelahnya. Berempat memiliki gregetan yang sama. Greget sama anak muda yang belum sadar tentang tujuan, passion, dan nilai dalam diri mereka. Bukannya kesel, tapi gak betah liat potensi yang terkubur begitu aja di begitu banyak anak muda.

Provident Future passionate untuk bangun passion orang lain.

Karena apa? Karena cuma passion yang buat hidup kita berasa hidup. Coba deh kita jalanain aktivitas tanpa rasa suka sama apa yang kita kerjain? Are you really feel happy with all your activities? Apa jadinya kalo setiap hari kita kerjaannya ngedumel karena kita gak suka sama yang kita lakuin?

You're only a dead person inside living body, I think.

Buat saya, menemukan passion adalah langkah awal menemukan makna hidup. Gak ada orang besar yang hidup diluar passion-nya.

Gak ada.

Lalu, apa yang membuat saya excited sama Provident Future? Karena kegerakan ini visinya buat bantuin anak muda. Kalo anak muda udah nemuin passion-nya dan berkarya dari sana, maka bangsa ini akan penuh sama perubahan. Jika perubahan banyak terjadi, maka Indonesia akan jauh lebih baik dari sekarang.

Long vision, I know. Tapi kalo gak ada yang mulai, gak akan ada perubahan. Itu prinsip saya. Oleh sebabnya amat beruntung menemukan teman-teman yang satu visi dan mau bergerak demi masa depan anak-anak bangsa yang lebih baik.

Bagi saya, Provident Future bukan hanya sekedar kegerakan, tapi sebuah langkah awal untuk hidup lebih bermakna.

Start to value yourself. Find your own purpose. Brave enough to see your passion.

And let's change the world.


Wednesday, January 30, 2013

Tuhan, Kau dimana?

"Tuhan, benarkah Kau ada? Jika iya, Kau dimana?"

Tuhan ada dimana-mana, katanya.
Benarkah?

Jika begitu kenapa begitu banyak orang mencari dan menemukan hampa?
Di lorong gang tempat pelacuran, Kau disana?
Di diskotik para penikmat sesama, Kau disana?
Di sudut rumah pelintingan ganja, Kau disana?

Atau Kau hanya nyaman di gedung-gedung besar bertuliskan "GEREJA"?
Duduk diam di tengah MESJID sejuta umat?
Menikmati bau hio di VIHARA tempat banyak orang menyembah?
Berkeliling di PURA dan sambil berbicang dengan Dewa-Dewi disana?

Sebenarnya Kau dimana Tuhan?

Apakah Bumi ini terlalu luas untuk Kau singgahi?
Atau pikiranku terlalu sempit untuk dapat mengerti?

Ah Tuhan...
Sungguhkah entitasMu ada?
Atau aku hanya sibuk mencari Engkau diluar yang senyatanya ada di dalam?

Entah.
Aku hanya bertanya.